News Update :
Tampilkan postingan dengan label Anekdot ulama salafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anekdot ulama salafi. Tampilkan semua postingan

Ulama wahabi melegalkan merubah dan membuang isi kitab ulama

Penulis : Bagus Rangin on 6 Januari 2013 | 23.51.00

6 Januari 2013





  

Wazir auqof Wahabi Syaikh sholih bin abdil aziz alu syaikh menuqilkan dari syaikh bin baz bahwa para imam dakwah [maksudnya ulama wahabi] telah sengaja membuang sesuatu yang menceritakan haq imam agung dalam cetakan pertama kitab assunnah karya abdullah bin Al imam Ahmad.dan itu katanya termasuk pada bab siyasat syar'i dan menjaga kemaslahatan dan bukan termasuk khiyanat ilmiyah sedikit pun...
Maka dengan alasan ini....WAHABI MEMBOLEHKAN MELAKUKAN KHIYANAT ILMIYAH TERHADAP KARYA ULAMA DGN MEMBUANG ATAU MERUBAH SEBAGIAN ISINYA,MEREKA BERALASAN BAHWA ITU ADALAH SIYASAT SYAR" IYAH DAN MENJAGA KEMASLAHATAN...LAH PANTESAN BANYAK MERUBAH N MEMALSUKAN KITAB KITAB ULAMA...LIHAT BUKTINYA DALAM KITAB syarah AQIDAH THOHAWIYAH PEGANGAN WAHABI, YANG ADA WARNA KUNING,hususnya yang ada kotak merah:




-----------------------------------------------------------




----------------------------------------------------------




-------------------------------------------------------------------




komentar (1) | | Read More...

Bukti kontradiktif wahabi dan kaidah bidah wahabi kacau balau




السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Saya catatkan disini contoh bentuk tanaqud;kontradiktif antara pengaku manhaj salafi,dan hal itu membuat makin jelas pada kita bahwa mafhum bidah menurut salafi itu ga jelas dan gonjang ganjing yang sangat dahsyat,dan perkara ini tdk cocok dengan pengakuan mereka yang muluk... 

Contoh ini bermula dari sebuah qisah yang akan aku ceritakan dengan ringkas: 

Aku duduk dengan sekumpulan orang yang taasub dengan kelompok kecil yang mereka ketahui dan mengingkari kelompok besar yang tidak mereka ketahui yakni mereka adalah wahabi,dan lalu terjadi pembahasan tentang masalah mafhum bidah dan cara penyelesaiannya dan berujung pada pendapat mereka bahwa menghidupkan malam maulid nabi SAW adalah bidah dholalah
Maka aku lalu menyebutkan pendapat pemuka ulama dan imam umat islam dan juga muhaddis dahulu [1] yang berfatwa atas isthbabnya atau di bolehkannya mengadakan maulid 

Lalu mereka dengan yakin berkata "padahal mereka belum membaca dalil2 ulama dan imam tersebut': tidak ada dalil atas pendapat imam imam tersebut,justru ulama sunnah [maksud mereka adalah ulama wahabi] sepakat atas bidah dolalahnya amalan maulid 

Lalu aku berkata [dalam rangka memberi penjelasan]:setelah kalian bangun dari rukuk dalam shalat yakni ketika itidal,apakah kalian menyimpan dua tangan di atas dada atau melonjorkan keduanya ke bawah??

lalu mereka menjawab: aku menyimpan kedua tanganku di atas dada 

Aku pun berkata kembali:jika begitu,maka yang engkau lakukan itu sesuai sunnah menurut Ibnu utsaimin tetapi menurut albani,engkau telah melakukan bidah dholalah,lalu aku menjelaskan perkara itu. 

lalu ia diam,kemudian berkata:mereka berdua adalah ulama besar,maka barang siapa ijtihad dan tepat,maka ia dapat dua pahala,dan jika salah maka mereka mendapat atu pahala yaitu pahala ijtihadnya. 

Maka aku berkata: engkau telah menimbang dengan takaran yang tepat,maka engkau pun mesti menimbang pada kami dengan takaran yang sesuai juga,ketika terjadi perbedaan yang kontradiktif antara syaikh salafi sendiri,maka engkau mengangap bahwa itu ijtihad dan bukan bidah dan kalian diam,dan tetapi ketika syaikh salafi sepakat terhadap hal yang mana pendapat mereka berbeda dengan para imam imam yang agung seperi dalam hal maulid,maka hukum menurut engkau cuma satu yaitu dengan hukum pasti bahwa itu bidah dholalah...!!! apakah ini bukan sebuah taasub yang berlebihan dan merupakan hal yang di murkai yang kau hukumi pada golongan lain ???lalu bagaimana kalian menghukumi?? 

Maka aku tdk mendapat jawaban lagi darinya kecuali perkataan mereka:takutlah engkau kepada Allah,daging ulama itu beracun de el el..heheheh

===========================================================

Sekarang mari kita lihat bukti perbedaan pendapat yang kontradiktif antara Ibnu utsaimin dan Albani: Ibnu utsaimin berkata bahwa menyimpan kedua tangan di atas dada setelah berdiri dari rukuk yakni ketika itidal itu adalah sunnah,Dan Albani berkata bahwa hal itu adalah bidah dholalah .

LIHAT bukti perkataan Ibnu utasimin plus scan kitab juga referensinya hususnya yang warna merah:

 : وضع اليدين على الصدر بعد القيام من الركوع، سنة مشروعة 






Lihat bukti perkataan Albani plus scan kitab juga referensinya,lihat warna merah:

•  : وضع اليدين على الصدر بعد القيام من الركوع، بدعة ضلالة  



Contoh kedua:

Masalah perkataan bagi yang wafat:telah berpulang ke tempatnya yang terakhir

انتقل إلى مثواه الأخير


di sini perkataan bin baz kontradiksi dengan ibnu utsaimin dan albani

Ibnu baz berkata:

: لا بأس بمقولة انتقل إلى مثواه الأخير 

:tidak apa apa berkata:ia telah berpulang ke tempatnya yang terakhir.

lihat buktinya:





Ibnu utsaimin berkata:

• مقولة ((انتقل إلى مثواه الأخير)) حرام لا يجوز، ومضمونها إنكار البعث 

perkataan :telah berpulang ke tempatnya yang terakhir itu hukumnya haram dan tidak boleh dan mengandung keingkaran atas adanya hari kebangkitan .

lihat buktinya:





Albani berkata:

• مقولة ((انتقل إلى مثواه الأخير)) كفر لفظي على الأقل !!! وما ألقاها بين الناس إلا كافر ملحد 

;perkataan;telah berpulang ke tempatnya yang terakhir itu merupakan kufur ucapan dan tidaklah di kenakan pada manusia kecuali ia adalah kafir yang mulhid.

lihat scan kitabnya yang warna merah:





[1] # Al Hafizh Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H) berkata, sebagaimana diterangkan oleh al Hafizh As Suyuthi (wafat tahun 911 H) dalam kitab Al Haawi Lil Fataawi juz I halaman 282:


وَ قَدْ ظَهَرَ لِي تَخْرِيجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ وَهُوَ مَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ أَغْرَقَ اللَّهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى فِيهِ مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا للهِ تَعَالَى }


Telah zahir bagi saya, mengeluarkan (mendasarkan) amaliyah maulid atas landasan yang kuat, yaitu hadits dalam hadist shahihain (shahih Bukhari dan shahih Muslim) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah Ta’ala.”


فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ لِلَّهِ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ فِي يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إسْدَاءِ نِعْمَةٍ وَدَفْعِ نِقْمَةٍ وَيُعَادُ ذَلِكَ فِي نَظِيرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلِّ سَنَةٍ


Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur kepada Allah atas apa yang Dia anugerahkan pada hari tertentu berupa pemberian nikmat dan penyelamatan dari mara bahaya, dan setiap tahun dilakukan setiap bertepatan pada hari itu.


وَالشُّكْرُ لِلَّهِ يَحْصُلُ بِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ كَالسُّجُودِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالتِّلَاوَةِ وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنْ النِّعْمَةِ بِبُرُوزِ هَذَا النَّبِيِّ الَّذِي هُوَ نَبِيُّ الرَّحْمَةِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ


Bersyukur kepada Allah bisa dicapai dengan macam-macam ibadah, seperti bersujud, berpuasa, bersedekah dan membaca Al Quran. Nikmat mana yang lebih agung melebihi datangnya Nabi ini pada hari itu. Beliau merupakan nabi rahmat.


وَ عَلَى هَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يُتَحَرَّى الْيَوْمُ بِعَيْنِهِ حَتَّى يُطَابِقَ قِصَّةَ مُوسَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَمَنْ لَمْ يُلَاحِظْ ذَلِكَ لَا يُبَالِي بِعَمَلِ الْمَوْلِدِ فِي أَيِّ يَوْمٍ مِنْ الشَّهْرِ بَلْ تَوَسَّعَ قَوْمٌ فَنَقَلُوهُ إلَى يَوْمٍ مِنْ السَّنَةِ
..... إلخ


Atas hal yang demikian, maka seyogyanya diusahakan Maulid dilaksanakan pada hari tersebut. Adapun orang yang tidak memperhatikan hal yang demikian maka dia tidak perduli dalam hari apa dari bulan tersebut dia mengadakan Maulid, bahkan ada orang-orang yang memperluas, mereka memindahkankannya ke hari dari setahun…dst
Catatan:
Berikut riwayat Imam Muslim tentang berpuasa Asyura yang dilakukan oleh orang Yahudi:

وَحَدَّثَنِيْ ابْنُ أَبِيْ عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا - أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُوْدَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوْا هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ أَنْجَى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُوْلُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.


Telah menceritakan saya, Ibnu Abi Umar, telah menceritakan kami, Sufyan bin Ayyub, dari Abdullah bin Said bin Jubair, dari bapaknya, dari Ibnu Abbas –radhiyallaahu ‘anhumaa- :

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa padanya?” Mereka menjawab: ”Ini adalah hari agung dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, lalu Musa berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur sehingga kamipun berpuasa.” Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam-pun berpuasa dan menyuruh berpuasa hari Asyura” [Shahih Muslim juz III halaman 150, hadits nomor 2714, maktabah syamilah / juz I halaman 459, cetakan Al Ma’arif Bandung]

# al-Imam al-Hafizh as-Sakhawi seperti disebutkan dalam al-Ajwibah al-Mardliyyah, sebagai berikut:


لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَالَ أَهْـلُ الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُـدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ- يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَبَرَّاتِ، بَلْ يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ". ثُمَّ قَالَ: "قُلْتُ: كَانَ مَوْلِدُهُ الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْلَ: لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْلَ: لِثَمَانٍ، وَقِيْلَ: لِعَشْرٍ وَقِيْلَ غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلاَ بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَلْ يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّهْرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ.

“Peringatan Maulid Nabi belum pernah dilakukan oleh seorang-pun dari kaum Salaf Saleh yang hidup pada tiga abad pertama yang mulia, melainkan baru ada setelah itu di kemudian. Dan ummat Islam di semua daerah dan kota-kota besar senantiasa mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan kelahiran Rasulullah. Mereka mengadakan jamuan-jamuan makan yang luar biasa dan diisi dengan hal-hal yang menggembirakan dan baik. Pada malam harinya, mereka mengeluarkan berbagai macam sedekah, mereka menampakkan kegembiraan dan suka cita. Mereka melakukan kebaikan-kebaikan lebih dari biasanya. Mereka bahkan meramaikan dengan membaca buku-buku maulid. Dan nampaklah keberkahan Nabi dan Maulid secara merata. Dan ini semua telah teruji”. Kemudian as-Sakhawi berkata: “Aku Katakan: “Tanggal kelahiran Nabi menurut pendapat yang paling shahih adalah malam Senin, tanggal 12 bulan Rabi’ul Awwal. Menurut pendapat lain malam tanggal 2, 8, 10 dan masih ada pendapat-pendapat lain. Oleh karenanya tidak mengapa melakukan kebaikan kapanpun pada hari-hari dan malam-malam ini sesuai dengan kesiapan yang ada, bahkan baik jika dilakukan pada hari-hari dan malam-malam bulan Rabi'ul Awwal seluruhnya” .
komentar (4) | | Read More...

Bantahan bagi yang mengingkari malaikat maut bernama izrail

Penulis : Bagus Rangin on 14 Juli 2012 | 01.45.00

14 Juli 2012




Sebagian orang telah menyangka atas batilnya penamaan malaikat maut dengan nama izrail,sehingga al bani berkata dalam ta'liqnya terhadap syarh at thohawiyah libni abil izz 

: "وأما تسميته بـعزرائيل كما هو الشائع بين الناس فلا أصل له ، وإنما هو من الإسرائيليات"ا.هـ . 


;Adapun penamaan malaikat maut dengan nama izrail sebagaimana telah masyhur di kalangan manusia,maka itu tidak ada asalnya,tetapi itu merupakan cerita isroiliyat.
komentar (2) | | Read More...

Imam Ibnu Qudamah ANTARA celaan wahabi dan pujian para Imam

Penulis : Bagus Rangin on 29 Maret 2012 | 23.22.00

29 Maret 2012




  Goa makam ashabul kahfi 


Ulama Salafi Muhammad bin Ibrahim berkata tentang kitab al-lum'ah karya Imam Ibnu Qudamah:


(128 - قول صاحب اللمعة () وجب الايمان به لفظا ) 
واما كلام صاحب اللمعة فهذه الكلمة مما لوحظ في هذه العقيدة, وقد لوحظ فيها عدة 
كلمات أخذت على المصنف, إذ لا يخفى ان مذهب أهل السنة والجماعة هو الايمان بما ثبت 
في الكتاب والسنة من أسماء الله وصفاته لفظا ومعنى, واعتقاد أن هذه الأسماء 
والصفات على الحقيقة لا على المجاز, وأن لها معاني حقيقة تليق بجلال الله وعظمته . 
وادلة ذلك أكثر من أن تحصر. ومعاني هذه الأسماء ظاهرة معروفة من القرآن كغيرها 
لا لبس فيها ولا اشكال ولا غموض, فقد أخذ أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم عنه 
القرآن ونقلوا عنه الأحاديث لم يستشكلوا شيئا من معاني هذه الآيات والأحاديث 
لأنها واضحة صريحة, وكذلك من بعدهم من القرون الفاضلة, كما يروى عن مالك لما سئل 
عن قوله سبحانه: (الرحمن على العرش استوى) () قال: الاستواء معلوم, 
والكيف مجهول والايمان به واجب, والسؤال عنه بدعة. وكذلك يروى معنى ذلك عن ربيعة 
شيخ مالك, ويروى عن أم سلمة مرفوعا وموقوفا . 
أما كنه الصفة وكيفيتها فلا يعلمه إلا الله سبحانه, إذ الكلام في الصفة فرع عن 
الكلام في الموصوف, فكما لا يعلم كيف هو - إلا هو - فكذلك صفاته. وهو معنى قول مالك : 
والكيف مجهول . 
أما ما ذكره في ((اللعمة)) فانه ينطبق على مذهب المفوضة وهو من شر المذاهب 
واخبثها. والمصنف رحمه الله إمام في السنة ومن أبعد الناس عن مذهب المفوضة وغيرهم 
من المبتدعة. والله أعلم. وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم .  


:Perkataan pengarang kitab lum'ah hal 128: wajib iman terhadap nas mutasyabihat secara lafadnya saja",perkataan ini merupakan perkataan yg mesti di amati dalam hal aqidah karena tdk samar lagi bahwa madhab ahlis sunnah dalam asma was sifat adalah iman secara lafad dan makna,dan mengitiqadkan secara hakikat bukan majaz.....
komentar (11) | | Read More...

Al Bani:Bumi berputar, "Ben Baz meragukan keimanannya".

Penulis : Bagus Rangin on 27 Februari 2012 | 11.17.00

27 Februari 2012

 Shaykh Fatih Qaribullah  Sudan 

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله حمدا يرضاه لذاته، والصلاة والسلام على سيد مخلوقاته، ورضي الله عن الصحابة والآل، وأتباعهم من أهل الشرع والحال، والسلام علينا وعلى عباد الله الصالحين.

 Umat islam sedang di uji  "inna lillah wa inna ilaihi rojiuun" dgn guluwnya wahabi,setelah sekte ini mengkafirkan muslim yang bukan termasuk golongannya,shgga  hukum kafir utk mayoritas umat islam adalah sesuatu yang mudah mereka ucapkan, bahkan tdk sampai di situ,ternyata di antara mereka pun saling kafir mengkafirkan  satu sama lain...

Berkata Syaikh Al bani dalam silsilat al huda wan nur 1/497:
"نحن - في الحقيقة - لا نشك في أن قضية دوران الأرض حقيقة علمية لا تقبل جدلا".

:Kami "pada hakikatnya" tidak ragu lagi atas  kaeadaan berputarnya bumi dengan kenyataan ilmiyah yang tdk bisa di perdebatkan lagi.
komentar (3) | | Read More...

Anekdot fatwa ulama salafi "Istawa 'artinya adalah Julus; duduk/semayam"

Penulis : Bagus Rangin on 26 Januari 2012 | 23.41.00

26 Januari 2012






Salafi mengatakan al-Istawa 'artinya adalah Julus; duduk/semayam - Allah Duduk

Ulama Salafi  Mengatakan  dalam al-Majmu Fatawa 'Syaikh' Uthaimeen di ( 1 / 57) dengan mengutip perkataan Ibn al-Qayyim :

Kutipan
وأما تفسيره بالجلوس فقد نقل ابن القيم في الصواعق 4 / 1303 عن خارجة بن مصعب في قوله تعالى:) الرحمن على العرش استوى ((1) قوله: "وهل يكون الاستواء إلا الجلوس" ا ه وقد ورد ذكر الجلوس في حديث أخرجه... الإمام أحمد عن ابن عباس رضي الله عنهما مرفوعا والله أعلم..

terjemahan : Adapu tafsir istawa dengan duduk itu telah di riwayatkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam As-Sawaaiq 4/1303 dari Kharijah bin Mush'ab  dalam bahasan firman Allah Ta'ala:: Ar-Rahmanu  Alal Arshi  Istawa,"Dan Apakah ada istiwa itu selain duduk? "dan  penyebutan dengan makna duduk telah di riwayatkan dalam hadits yang di keluarkan dari Imam Ahmad dari Ibnu Abbas rodiyallohu anhuma dalam  status Marfu '.
komentar | | Read More...

Salafi" Allah Berlari-lari

Penulis : Bagus Rangin on 25 Januari 2012 | 23.35.00

25 Januari 2012



 Syaikh Ali Jumah mufti mesir 



Salafi mengatakan Allah  disifati dengan Jogging / berlari lari
Dalam Fatawa al-Aqida Salafi 'Syaikh' Muhammad bin Salih b. Uthaimin, halaman 112,  mengatakan: 

Kutipan

وأي مانع يمنع من أن نؤمن بأن الله تعالى يأتي هرولة 
"Apa yang  melarang kita untuk percaya bahwa Allah melakukan joging / berlari [harwala]?"
komentar | | Read More...

Salafi" Allah punya bayangan





Fatwa Ben Bazzz
sumber:
http://www.binbaz.org.sa/mat/4234

مسألة في الصفات 

في حديث السبعة الذين يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله, فهل يوصف الله تعالى بأن له ظلا? 

نعم كما جاء في الحديث, وفي بعض الروايات: ((في ظل عرشه)) [1] لكن الصحيحين ((في ظله)), فهو له ظل يليق به سبحانه لا نعلم كيفيته مثل سائر الصفات, الباب واحد عند أهل السنة والجماعة. والله ولي التوفيق. 

komentar (2) | | Read More...

Al bani vs Ibnu taemiyah DALAM ILMU HADITS

Penulis : Bagus Rangin on 8 Januari 2012 | 21.50.00

8 Januari 2012




  الشيخ عثمان سراج الدين والشيخ الهرري 


Fasal: al bani mensifati ibnu taemiyah dgn sifat pemberani dalam mendustakan hadis soheh.

Ibnu taemiyah telah membawakan salah satu hadis dlm kitabnya minhaj as sunnah 4/86 pada bab keutamaan Ali bin Abi thalib,maka beliau mengklaim bhw hadis tsbt tdk soheh, dgn merujuk kpd pndpt ibnu hazm, inilah perkataannya: 



ﻭﺍﻣﺎ ﻗﻮﻟﻪ : (ﻣﻦ ﻛﻨﺖ ﻣﻮﻻﻩ ﻓﻌﻠﻲ ﻣﻮﻻﻩ) ﻓﻠﻴﺲ ﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﺎﺡ ، ﻟﻜﻦ ﻫﻮ ﻣﻤﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ، ﻭﺗﻨﺎﺯﻉ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺻﺤﺘﻪ . . . ]

: Adapun sabda Nabi: brang siapa menjadikan aku (maula) pemimpinnya,maka Ali lah maula (pemimpin)nya'' ini bukanlah hadis soheh,tetapi itu hanya riwayat dari para ulama,dan tlh berselisih orang2 dalam kesohehannya-pent.
komentar (1) | | Read More...

ALBANI VS IBNU TAIMIYAH

Penulis : Bagus Rangin on 28 Desember 2011 | 18.16.00

28 Desember 2011






Fasal: Ibnu taemiyah memaknai istawa dgn istiqror:menetap di atasy arasyNya,dan Allah pun bisa menetap di atas lalat,dan Al bani menentang makna tsbt dan menganggapnya bid'ah..! Ketahuilah bahwa ibnu taemiyah berkata dgn menetapnya Allah di atas arasy,dan ALbani menentang hal itu dgn berkata: tdk boleh meng'itiqadkan Allah menetap /istiqror.mari kita simak :

komentar | | Read More...

Total Tayangan Halaman

Translate

PENGELOLA BLOG:

PENGIKUT:

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger