News Update :
Tampilkan postingan dengan label Femahaman teks kitab suci secara harfiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Femahaman teks kitab suci secara harfiah. Tampilkan semua postingan

Apakah kekufuran mengatakan: Allah melihat dan mendengar secara harfiah

Penulis : Bagus Rangin on 7 April 2014 | 09.47.00

7 April 2014



Pertanyaan: Saya merenungkan pasal literalis dan pertanyaan saya mengenai Frase dalam kitab aqidah Tahawiyyah. "Wa man wasafa Allaha bima'nan min Ma'ani al bashar faqad kafar" - ". Dan siapapun yang mensifati atribut Allah dengan makna yang berlaku untuk mahluk maka ia telah kufur" ,nah Apakah saya tau bahwa seseorang menjdi kufur dengan mengatakan Allah benar-benar memiliki tangan/organ, tapi kenapa di anggap tidak kufur ketika mengatakan Allah melihat dan mendengar secara harfiah? dan karena Ma'ana melihat juga berlaku untuk manusia? 

Jawaban: Kita harus percaya bahwa arti dari kata-kata mendengar dan melihat berbeda pengertiannya ketika kata kata itu merujuk kepada Allah. Hal ini berlaku untuk semua kata-kata yang mengacu pada sifat-sifat Allah.  saya katakan mengenai atribut penglihatan, pendengaran dan kalam:

Allah di sifati  dengan:

_____________________________________

1) {Mendengar (Al-Sam / السمع),

2) dan melihat (Al-Basar / البصر), yang asal keduanya berhubungan dengan semua yang ada,} Allah berfirman dalam Quran:

"ليس كمثله شيء وهو السميع البصير" 

Artinya: ". Tidak ada yang menyerupai-Nya, dan Dia Maha Mendengar, juga Maha Melihat" (Ash-Shuraa, 11)

Dari sini kita memahami bahwa Mendengar dan Melihat-Nya tidak seperti mendengar atau melihat kita. melihat dan mendengarNya bukan dengan instrumen, seperti telinga atau mata, tidak tergantung pada getaran, cahaya atau jarak. Hal ini karena Allah adalah Satu dan tidak butuh apa-apa. Pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak berurutan, karena Allah tidak berubah, Hal-hal yang dilihat atau didengarlah yang berurutan, namun pendengaran-Nya dari  semua itu tidak begitu.

3)  (Al-Kalaam / الكلام) berbicara, tanpa huruf atau suara, yang berkaitan dengan apa pun yang ada dalam Pengetahuan-Nya.}

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"وكلم الله موسى تكليما" 

Artinya: "Dan Allah berbicara kepada Musa." (An-Nisaa ', 164) Artinya dengan kalam-Nya yang bkan huruf atau suara.

Kalam Allah bukan resonan sebagaimana kalam kita, namun jika berkehendak,maka Allah bisa membuka hijab dari kita untuk mendengar kalam,-Nya sehingga kita bisa mendengar dan memahami dari apa yang Dia kehendaki bagi kita untuk memahaminya. selain itu , kita tidak perlu, dan pada kenyataannya tidak bisa tahu hakikat sifat kalam Allah .

Di akhirat, umat Islam akan mendengar kalam Allah, seperti yang terjadi pada Nabi Musa  . Artinya, tanpa kalamNya BERUPA huruf, suara, DAN kata-kata, tidak berurutan atau ada permulaan , penghentian, atau indera.

Ini benar bahwa kalam Allah adalah kekal dan tidak memiliki awal, karena jika tidak, maka akan membutuhkan pencipta untuk memberikan eksistensi kalamNya. Hal ini tidak masuk akal mengatakan bahwa kalam Allah adalah huruf atau suara, dan kemudian mengatakan bahwa kalamNYA itu tidak diciptakan.  ini karena  huruf dan suara pasti memiliki awal, dan apa pun ygmemiliki awal harus dibawa ke dalam keberadaan, dan dengan dibawa ke dalam keberadaan itu berarti di ciptakan....

Muslim juga akan melihat Allah tanpa Dia berada di arah, tempat, jarak. dan semua itu otentik diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari bahwa Nabi SAW berkata:

ما منكم من أحد إلا سيكلمه ربه ليس بينه وبينه ترجمان ولا حجاب يحجبه

Setiap KALIAN akan berbicara dengan Tuhannya tanpa penterjemah. dan tidak ada hijab  bagi mata dari melihat-Nya "(Al-Bukhari, 7005).

Ini tidak seperti mendengar atau melihat ciptaan, karena Allah berfirman dalam Quran itu,

"ليس كمثله شيء" 

Artinya: ". Tidak ada yang menyerupai-Nya" (Ash-Sħuuraa, 11)

Harus dicatat mengenai sifat Allah mendengar, Melihat dan Kalam bahwa semua sifat tsbt benar-ada pada dzatNya, dan bukan sesuatu yang mungkin. semuanya adalah atribut kesempurnaan dan sebagai kebutuhan bagiNya, dan bukan juga kemampuan. Oleh karena itu dilarang untuk mengatakan bahwa Allah dapat mendengar, melihat atau berbicara, karena perkataan itu menyiratkan bahwa Dia dapat mendengar, melihat atau berbicara, yang merupakan keyakinan menyimpang. Jadi kita mengatakan bahwa Allah mendengar, atau melihat Allah, atau Allah berbicara, tapi tidak harus mengatakan, "Allah bisa mendengar," atau "bisa melihat," atau "bisa berbicara." Dengan kata lain, Allah dikaitkan dengan pendengaran, penglihatan , dan bicara yang tidak memiliki awal, atau akhir, dan juga tidak terdiri dari bagian, urutan, dan tidak memiliki ada kesamaan dengan sifat pendengaran, penglihatan, dan bicara kita.

_____________________________________

Perbedaan dalam masalah antara mensifati Allah dengan kata "tangan" dan kata  "mendengar" jugA "melihat" adalah bahwa kalimat pertama [tangan] cenderung membawa ide organ/bagian/body, atau instrumen tubuh ke dalam pikiran secara spontan setelah mendengar kalimat itu,ytetapi kata Pendengaran dan penglihatan tidaklah seperti itu. Itulah mengapa akan menjadi kufur mengatakan bahwa Allah memiliki tangan dalam arti harfiah. tetapi Dalam kasus seseorang berkata bahwa Allah " mendengar " atau " melihat" secara harfiah itu tidak secara spontan di ketahui apa yang dimaksudkannya. Jika dia berarti bahwa Allah memiliki  mendengar dengan telinga atau penglihatan berurutan, maka itu adalah kufur. namun, jika ia hanya ingin menekankan bahwa Allah benar-benar memiliki sifat sifat tersebut, sementara ia percaya bahwa pendengaran dan penglihatan-Nya bukan dengan instrumen, dan tidak memiliki awal dan akhir atau dan tidak berubah,maka itu hal yg benar.



TANYA-JAWAB
 
Pertanyaan  : Wahabiyya selalu mengatakan: "Anda MELARANG kami mengatakan  Allah SWT memilki" Tangan "dan" dan bahwa kami tidak diperbolehkan untuk mengatakan bahwa Allah berada di atas Arsy, bergerak, datang dll,itu justru penyebabnya karena kalian membandingkan Allah dengan ciptaan-Nya, padahal kami berkata, "Dia memiliki Tangan Tangan tidak seperti tangan kita, Dia datang tidak seperti datang mahluk" dll! Dan padahal kalian berbuat hal yang sama! kalian berkata: "Dia melihat, tidak seperti melihatnhya ciptaan! Dia mendengar, tidak seperti mendengar ciptaan-Nya! Jadi ketika kita membandingkan Allah dengan makhluk-Nya, Anda akan melakukan hal yang sama! Jadi di mana perbedaan antara kalian dan kami? "

Apa yang bisa kita jawab?

JAWABAN: Apa yang mereka[WAHABI] Terjemahkan sebagai kaki, yaitu qadam,itu bukan merupakan sifat dari Allah. Qadam adalah sesuatu yang Allah tempatkan ke dalam neraka, jadi bagaimana bisa menjadi sifat Allah? Dan adalah gila mengklaim bahwa Kata "yad", yang mereka terjemahkan "tangan,"  lalu di nisbatkan sebagai sifat tetapi bukan tangan, karena tangan adalah sesuatu dengan dimensi fisik, sehingga perlu pencipta yang menentukan dimensi-dimensinya. Jadi, ketika seseorang mengatakan "yad tidak seperti yad kami" itu berarti bahwa  yad adalah tangan yang bukan tangan. Anda dapat mengatakan sifat sebagaimana dalam nas seperti "yad tidak seperti tangan kami", tetapi untuk mengatakan "Tangan tidak seperti tangan kami," adalah terjemahan yang menyesatkan . Perbedaan antara Wahabi dan kita adalah bahwa mereka percaya Allah memiliki dimensi fisik, seperti bagian, arah, batas dan ukuran,maka Ketika mereka mengatakan "Tangan tidak seperti tangan kami," itu maksudnya bahwa DIA[Allah] memiliki tangan /organ yg berbeda warna dan bentuk, atau hal seperti itu, sementara kita memahami bahwa Allah tidak memiliki bagian, batas atau dimensi fisik juga perubahan. Perbedaannya adalah substansial, karena mereka menyangkal ayat "Dia tidak menyerupai apa-pun." itu mutlak bukan tdk menyerupai dari satu sisi saja.
komentar | | Read More...

Dasar Bagi Orang Awam dalam Berinteraksi dengan Nas-nas Mutasyabihat Bag 3

Penulis : Bagus Rangin on 16 Februari 2014 | 11.25.00

16 Februari 2014


shaykh al-habib umar hamed al-jeelani

Dasar Kelima: Al-Imsaak (menahan diri)

Imam Al-Ghazali r.a. berkata:

"Dasar Kelima ialah Al-Imsaak iaitu, tidak menukarkan lafad-lafad tersebut dengan perkataan-perkataan lain menurut bahasa yang lain, ataupun menambahkan perkataan tersebut, atau menguranginya, bahkan, dia tidak menuturkan melainkan dengan lafad tersebut.
Al-Faqir mengulas dengan bantuan Allah s.w.t.:
Imam Al-Ghazali r.a. menggariskan dasar kelima ini bagi orang awam, supaya tidak mengubah lafad nas-nas mutasyabihat tersebut dan membiarkan lafad tersebut tanpa penambahan. Contohnya, jika Allah s.w.t. berkata yadd Allah, seseorang tidak boleh mengubahnya dengan mengatakan : tangan Allah krna perkataan yadd itu sendiri tidak diketahui maknanya oleh orang orang awam, dan bukanlah makna dhahirnya (yang mengandungi makna kejisiman) yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t..
Seterusnya, Imam Al-Ghazali r.a. mensyarahkan dengan panjang lebar berkenaan hal ini, dengan menjelaskan enam perubahan lafad yang tidak dibenarkan, bagi orang awam.
Pertama: Tafsir.

Iaitu, seseorang menukarkan perkataan atau lafad mutasyabihat tersebut kep bahasa lain, dengan maknanya dari sudut bahasa seperti contoh yadd Allah yang disebutkan tadi.
Seseorang tidak boleh menukarkan perkataan yadd Allah ke bahasa lain dari sudut bahasa seperti menukarkan perkataan yadd Allah ke tangan Allah dalam bahasa Melayu, atau hand of Allah dalam bahasa Inggeris.  karena, perkataan yadd itu sendiri tidak dimaksudkan dengan makna dhahirnya iaitu suatu anggota tangan, tetapi ada makna lain yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t.. Jadi, seseorang tidak patut menukarkan perkataan yadd Allah tersebut kepada perkataan tangan Allah karena bukanlah tangan yang dimaksudkan daripada perkataan yadd tersebut.
Banyak orang-orang jahil khususnya golongan yang mempelopori faham tajsim dalam kalangan melayu yang terjebak dengan kesalahan ini, di mana mereka mentafsirkan perkataan yadd Allah ini dengan perkataan tangan Allah, lalu mendakwa Allah s.w.t. mempunyai tangan! Inilah suatu kesasatan.

Kedua: Ta'wil (memberi makna lain bagi suatu perkataan)
Imam Al-Ghazali r.a. memperinci berkenaan dengan masalah ta'wil di sini dengan menjelaskan bahwasanya, seseorang awam yang mencuba menta'wil nas-nas mutasyabihat ini dengan femahaman dan pemikiran mereka sendiri, tanpa berdasarkan rujukan, atau tanpa merujuk  kepada ulama mana pun', maka hukumnya haram, krna ia terperosok kepada kesesatan. Sikap orang-orang awam hendaklah, tidak mendalami masalah tersebut.


Dalam situasi lain, menurut Imam Al-Ghazali r.a. lagi, seseorang yang arif (yang mendalam ilmunya tentang Allah s.w.t.) juga tidak dibenarkan membincangkan mengenai ta'wilan-ta'wilan nas-nas mutasyabihat ini kepada awam, krna di takutkan timbul fitnah kepada orang awam. Namun, larangan ini tidak mutlak, krna dalam perbincangan yang lain, beliau membenarkan orang-orang arif (ulama' yang mendalam ilmu ) memberitahu orang-orang awam tentang ta'wilan nas-nas mutasyabihat tersebut, jika orang awam tidak akanterbawa kepada fitnah dan jika ta'wilan tersebut suatu ta'wilan yang tepat (sesuaian dengan kaedah bahasa Arab) seperti menta'wilkan istiwa' dengan pentadbiran Allah s.w.t., dan yadd dengan makna kekuasaan Allah s.w.t..

Inilah yang diamalkan oleh majoriti ulama' Islam pada zaman ini, yang menjelaskan ta'wil nas-nas mutasyabihat ini kepada masyarakat awam, demi menolak kesamaran dan demi mempertahankan kemurnian aqidah umat Islam yang awam, daripada kesesatan faham tajsim dan tasybih yang kian berkembang atas nama aqidah salaf (padahal aqidah salafus soleh berbeda dengan faham golongan ini).
Dalam situasi lain, Imam Al-Ghazali r.a. membenarkan golongan arif (ulama' yang mengenal Allah s.w.t. dan mendalam ilmu aqidahnya), untuk menta'wilkan nas-nas mutasyabihat berdasarkan ilmu yang mereka miliki, yang sesuai dengan kaedah bahasa Arab dan sesuai dengan aqidah Islam yang murni.
  
Ketiga: Tasrif (mengubah bentuk lafad tersebut mengikut kaedah ilmu tatabahasa).

Imam Al-Ghazali r.a. berkata:
"Wajib juga bagi orang awam Islam, untuk mencegah dirinya daripada menubah lafad mutasyabihat tersebut dengan kaedah tatabahasanya. Contoh dalam firman Allah s.w.t.:
…Dia Istawa di atas 'Arasy. (Surah Ar-Ra'd: 2), maka tidak boleh seseorang menukarkan perkataan istawa' tersebut dengan mengatakan Allah s.w.t. sedang beristiwa', Allah s.w.t. sedang bersemayam dan sebagainya, krna perkataan-perkataan tersebut (Allah s.w.t. beristiwa' atau Allah s.w.t. bersemayam atas Arasy) itu memiliki maksud: Allah s.w.t. menetap (di atas Arasy tersebut yang membawa faham, Allah s.w.t. itu bertempat).  karena perkataan isitwa' itu sendiri bsa brmakna mentadbir, jika kita mengamati dengan betul-betul, petunjuk dari keseluruhan ayat tersebut dan ayat-ayat yang lain.
"Seseorang perlu menjauhi tasriif (mengubah bantuk lafad perkataan tersebut seperti berkata: Allah s.w.t. beristiwa' atas Arasy dan sebagainya), krna ini akan mengubah petunjuk-petunjuk asal perkataan tersebut."
Bahkan, perbuatan mengubah lafad tersebut dengan menambah perkataan lain seperti: "Allah s.w.t. bersemayamdengan zatNya di atas Arasy' " juga merupakan suatu kesalahan, menurut Imam Al-Ghazali r.a. dalam poin yang dijelaskan ini. Namun, inilah yang sering dilakukan oleh sebagian golongan jahil pada zaman ini, yang mengaku pengikut salaf, padahal mereka sendiri ber tentangan dengan aqidah salafus soleh. Tiada seorang pun dari kalangan salaf yang pernah menambah perkataan "dengan zatNya" pada perkataan "Allah s.w.t. istawa atas Arasy'". Inilah di antara bid'ah golongan yang mengaku salafi pada zaman ini, dengan menambah perkataan yang tidak pernah ditambahkan oleh Allah s.w.t. sehingga mengubah maksud asal perkataan tersebut, dan membawa kepada faham tajsim.
Keempat: Qiyas

Seseorang juga wajib menjauhi perbuatan, mengiyaskan makna dhahir bagi nas-nas mutasyabihat yang dinisbahkan kepada Allah s.w.t., dengan makna dhahir bagi perkataan tersebut jika dinisbahkan kepada makhluk.


Contohnya, makna dhahir bagi yadd (tangan) jika dinisbahkan kepada makhluk ialah suatu anggota yang berjuz yang ada sendi, yang ada bagian-bagian tertentu seperti bahu, siku, lengan, dan pergelangan tangan. Ini ialah makna kejisiman.

Namun, jika perkataan yadd ini dinisbahkan kepada Allah s.w.t., maka ada suatu makna yang lain, bukan seperti maknanya jika dinisbahkan kepada manusia (iaitu dengan makna tangan), dan seseorang tidak boleh mengiyaskan perkataan yadd Allah dengan yadd (tangan) manusia. Bahkan, seseorang juga tidak boleh menetapkan makna dhahir yadd iaitu tangan, jika dinisbahkan kepada Allah s.w.t..

Kelima: Menggabungkan

Seseorang muslim juga tidak boleh mencantumkan seluruh nas-nas mutasyabihat dari pelbagai ayat-ayat yang berbeda, lalu menggambarkan bahwasanya Allah s.w.t. memiliki sifat, wajah, tangan, kaki dan sebagainya, krna ini akan membawa kepada menjisimkan Allah s.w.t., dan merupakan suatu kesesatan.  karena, dalam setiap ayat yang berbeda, ada petunjuk yang menunjukkan maksud yang berbeda, dan bukan maksud kejisiman. Jika seseorang mengumpulkan semua nas-nas mutasyabihat lalu mendakwa Allah s.w.t. memiliki sifat-sifat kejisiman tersebut, maka ini suatu kesesatan yang nyata.
Keenam: Memisahkan

Seseorang tidak boleh memisahkan walaupun satu perkataan dari sejumlah nas yang mutasyabihat tersebut, krna hal itu akan menghilangkan petunjuk dan maksud asal perkataan tersebut.
  
Contohnya:
Dan Dialah yang Maha Berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. (Surah Al-An'am 18).


Seseorang tidak boleh membuang perkataan Al-Qahir (Maha Berkuasa) daripada nas tersebut, sehingga mengandung maksud: Dia di atas sekalian hamba-hambaNya. karena dengan perkataan Maha Berkuasa, petunjuk ayat itu menunjukkan, makna atas dalam ayat tersebut bukanlah berarti, tempat bagi Allah s.w.t. itu di atas pada manusia, tetapi menunjukkan kekuasaan Allah s.w.t. itu menguasai manusia.


Namun, jika perkataan "Maha Berkuasa" dibuang, maka  menunjukkan seolah-olah, Allah s.w.t. itu bertempat di atas manusia, sedangkan Allah s.w.t. wujud tidak bertempat. Jadi, dengan memisahkan suatu perkataan, maka berubahlah petunjuknya.

Dengan demikian, perbuatan membuang ssuatu perkataan daripada nas, untuk menetapkan makna kejisiman bagi Allah s.w.t., merupakan suatu yang tercela dan membawa kepada kesesatan.


Inilah kaedah asas yang kelima bagi orang awam, dalam menjaga aqidah mereka daripada kesesatan faham tajsim, iaitu dengan tidak mengubah lafad dhahir bagi perkataan mutasyabihat tersebut, dan pada waktu yang sama, tidak memahaminya dengan makna dhahirnya yang  mngandung makna kejisiman. Sebaiknya, serahkan maknanya hanya kepada Allah s.w.t..

Dasar Keenam: Al-Kaff (mencegah daripada berkhayal).
Imam Al-Ghazali r.a. berkata:
"Dasar Keenam ialah, Al-Kaff, iaitu, mencegah batinnya (hati dan pemikirannya) daripada membahas tentangnya (nas-nas mutasyabihat) maupun berfikir tentangnya (mengkhayalkannya dan mendalami masalah tersebut dengan akal)".
Al-Faqir mengulas dengan bantuan Allah s.w.t.:

Dasar ini suatu poin yang penting bahkan lebih berat daripada yang kelima tadi, iaitu, mencegah akal pikiran dan hati daripada mendalami masalah tersebut, dengan prasangka dan khayalan. Seseorang awam khususnya, hendaklah tidak merenungkan atau memikirkan secara mendalam, tentang nas-nas mutasyabihat tersebut, apatah lagi berkhayal tentang rupa Allah s.w.t, krna hal ini merupakan suatu perbuatan yang tercela, dan Maha Suci Allah s.w.t. daripada rupa paras dan bentuk.
Seseorang yang mampu, hanya perlu berfikir tentang bukti-bukti wujud Allah s.w.t. melalui alam ini. Lebih tinggi daripada itu, bagi mereka yang mempunyai kemampuan, maka mereka boleh mendalami ilmu kalam ataupun ilmu sifat dua puluh secara mendalam, demi menjaga kesejahteraan aqidah umat Islam daripada syubat orang-orang kafir dan golongan bid'ah dalam masalah aqidah seperti golongan mujassimah.

Berfikir itu ada dua jenis iaitu, pemikiran yang mendalam, yang tidak sesuai bagi orang-orang awam, dan pemikiran yang dasar, yang sesuai bagi orang-orang awam juga.

Adapun kaedah berfikir dasar, seperti, kebeadaan alam yang tersusun ini menunjukkan ada Tuhan yang menciptakannya, sesuai digunakan oleh seluruh manusia, dan tidak ada bahaya mengenainya. Kaedah berfikir yang dasar ini terkandung dalam Al-Qur'an , yang mudah bagi seluruh umat manusia.

Adapun kaedah berfikir secara mendalam, seperti yang diamalkan oleh golongan mutakallimin, maka ini hanya sesuai bagi mereka yang layak dan mampu saja, untuk mendalaminya, dan merupakan fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang dalam kaum tersebut. Jika tidak ada orang yang mendalami ilmu tersebut dalam satu kaum, maka berdosa semuanya). sebab ilmu ini penting untuk mematahkan kesesatan faham bid'ah dan kesesatan agama-agama lain. Bahkan, ilmu kalam ini juga untuk membela aqidah Islam dalam menentang aqidah-aqidah agama lain yang sesat, seperti yang dimaksudkan oleh Imam Al-Ghazali r.a..
Hakikatnya, ilmu kalam ini satu ilmu yang bagaikan senjata, dalam melawan serangan pemikiran yang dilancarkan oleh para orientalis, dalam menentang ajaran dan aqidah Islam, yang mana, senjata tersebut, hanya digunakan oleh orang-orang yang mempunyai keahlian dan mampu menggunakannya saja, iaitu dari kalangan para ulama', bukan dari kalangan orang-orang awam.


Dasar Ketujuh: At-Taslim li Ahlil Ma'rifah (Menyerahkan pembahasan tersebut kepada Ahli Makrifat).

Imam Al-Ghazali r.a. berkata:

"Dasar ketujuh ialah berserah kepada ahli makrifat (menyerahkan perbahasan tersebut kepada ahli makrifat tanpa mencampurinya). Iaitu, dia tidak meyakini bahwasanya, apa yang tersembunyi darinya (tentang makna ta'wilan bagi nas-nas mutasyabihat tersebut), juga tersembunyi daripada pengetahuan Rasulullah s.a.w, para nabi a.s., para siddiqin dan para wali Allah s.w.t.."

Al-Faqir mengulas dengan bantuan Allah s.w.t.:

Ini poin dasar dasar yang terakhir, dari  tujuh  dasar yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali r.a., sebagai panduan bagi orang awam, iaitu, biarpun mereka (orang-orang awam) tidak mengetahui tentang makna yang tersembunyi daripada nas-nas mutasyabihat , namun dia tidak boleh menganggap bahwasanya, tidak ada orang lain yang mengetahuinya, krna Rasulullah s.a.w., para nabi a.s., sebagian para sahabat yang mendalam ilmunya, dan para wali Allah s.w.t. juga mengetahui ta'wilan nas-nas mutasyabihat tersebut, sesuai dengan izin dan kehendak Allah s.w.t..
Imam Al-Ghazali r.a. menjelaskan  dengan berkata:
"Wajib bagi orang awam meyakini bahwasanya, sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh ilmunya tentang makna mutasyabihat tersebut atau pun rahsia-rahsia nas-nas tersebut,semunya itu hanya bisa diketahui oleh Rasulullah s.a.w., Saidina Abu Bakar As-Siddiq r.a., pembesar-pembesar sahabat r.a., para wali dan para ulama' yang mendalam ilmunya. Orang awam tidak mengetahuinya karena kelemahan diri mereka dan kekurangan ilmunya. Maka, tidak wajar dia (orang-orang awam) membandingkan dirinya dengan diri orang lain (dalam kalangan orang-orang yang mendalam ilmu)."

Walaubagaimanapun, para Nabi a.s., ilmu-ilmu para ulama' yang mendalam ilmunya, para arifin dan para wali tentang Allah s.w.t, tidak pernah merangkum seluruh hakikat ketuhanan,  karena tdk ada yang mengetahui hakikat Allah s.w.t. kecuali Allah s.w.t. saja. Setiap makhluk, hanya mengetahui dan mengenal Allah s.w.t. sesuai dengan kadar yang ditetapkan oleh Allah s.w.t. dan sesuai dengan izinNya.
Para arifin dan para ulama' yang mendalam ilmunya, walaujpun mengetahui makna-makna ta'wilan bagi nas-nas mutasyabihat tersebut, namun, ilmu mereka sangat terbatas, sehingga tidak mampu untuk mencapai hakikat sifat-sifat Allah s.w.t.. Mereka hanya mengenal Allah s.w.t. dengan kadar yang diizinkan oleh Allah s.w.t., dan seluruh ilmu makhluk tidak dapat menyamai setitis daripada lautan ilmu Allah s.w.t
Dalam dasar ini juga, pendirian Imam Al-Ghazali r.a. jelas, mengikut tafsiran para ulama' khalaf dalam ayat ini:
padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya (Surah Ali Imran: 7)
Maknanya, Allah s.w.t. dan orang-orang yang mendalam ilmunya, yang mengetahui ta'wilan bagi nas-nas mutasyabihat ini. Allah s.w.t. memberi femahaman kepada siapa yang dikehendakiNya, sesuai dengan kehendakNya sekadar yang ditetapkanNya atas makhluk-makhlukNya.

Berdasarkan DASAR inilah, para ulama' khalaf SECARA husus mengetengahkan ta'wil-ta'wil bagi nas-nas mutasyabihat tersebut, yang sesuai dengan kaedah kiasan bahasa Arab sendiri, dan sesuai dengan aqidah Islam yang murni, ke dalam masyarakat awam Islam, agar mereka tidak terfitnah dengan faham tajsim yang menular.

Demikianlah tujuh dasar terpenting bagi orang-orang awam, dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat seperti yang digariskan oleh Imam Al-Ghazali r.a., demi mencegah diri daripada pengaruh tajsim (menjisimkan Allah seperti golongan hasyawiyah dan mujassimah) dan ta'thil (menafikan sifat Allah secara mutlak seperti golongan muktazilah).

Kesimpulan:

Kesimpulan Pertama:

Dapat disimpukan disini bahwasanya, jika seseorang awam berhadapan dengan nas-nas mutasyabihat maka, tujuh langkah yang perlu diambil dalam menjaga kemurnian aqidahnya iaitu:
taqdis (menyucikan Allah daripada sifat kejisiman), kemudian tasdiq (membenarkan lafad yang disebut oleh Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w.), kemudian I'tiraf (mengaku kelemahan diri dalam memahami nas mutasyabihat tersebut), kemudian As-Sukut (tidak bertanya tentang maksud sebenarnya dari perkataan mutasyabihat tersebut), kemudian Al-Imsak (tidak mengubah lafad-lafazd sebagaimana adanya atau mengubah maknanya dengan femahaman sendiri), kemudian Al-Kaff (menahan akal daripada memikirkan dan menghayalkan tentang nas-nas mutasyabihat tersebut),  kemudian At-Taslim il ahlil makrifat (menyerahkan perbahasan tersebut kepada ahli makrifat yang mendalam ilmunya tentang masalah tersebut, tanpa melibatkan diri dalam perbahasan tersebut dengan mereka).
Demikianlah dasar dasar bagi orang awam, dalam menjaga aqidah mereka daripada faham tajsim dan ta'thil.

Contohnya:

Seorang awam berhadapan dengan ayat Al-Qur'an yang yang mutasyabihat yang berbunyi:
Yadd (dalam bahasa Melayu maksudnya tangan) Allah di atas tangan mereka (Surah Al-Fath: 10).
hal yang perlu di lakukan oleh awam berkenaan dengan contoh yang diberikan adalah:

Pertama: At-Taqdis: Menyucikan Allah s.w.t. daripada dhahir ayat ini yang berunsur kejisiman. Iaitu, tidak menganggap bahwasanya, apa yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. ialah makna dhahir perkataan yadd  iaitu tangan yang merupakan jisim.
Sesungguhnya, setiap perkataan itu ada dua makna iaitu, makna aslinya dan makna kiasannya .
Kedua: At-Tasdiq: Iaitu, setelah dia menyucikan Allah s.w.t. daripada kejisiman, dengan tidak menanggap maksud yadd dalam ayat itu anggota jisim bernama tangan, dia juga hendaklah beriman dengan lafad yadd tersebut, dengan tidak menolak lafad perkataan yadd tersebut . Dia berkata: saya beriman dengan perkataan yadd yang disebut di dalam Al-Qur'an tersebut, tanpa menafikan lafad tersebut , namun ada makna lain di balik lafad itu, krna yang dimaksudkan bukanlah maknanya dari sudut dhahir, iaitu tangan. dasar ini untk menolak faham ta'thil golongan muktazilah yang menolak semua sifat Allah s.w.t..

Keempat: Al-I'tiraf : Iaitu, seseorang awam, setelah dia beriman dengan lafad yadd tersebut, dan meyakini bukanlah makna dhahir yadd (tangan) yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t, tetapi ada makna lain, hendaklah dia mengakui kejahilan diri dan kecetakan ilmunya untuk memahami makna perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut, tanpa mengisbatkan makna dhahir nas-nas tersebut [kejisiman]. Dia juga hendaklah mengakui kelemahan dirinya untuk mengetahui makna yg sebenarnya di balik perkataan yadd Allah itu, dan mengetahui bahwasanya, dia tidak dipertanggungjawab untuk mengetahui makna perkataan yadd Allah tersebut, krna dia bukan termasuk dalam golongan orang yang mendalam ilmunya.
Kelima: As-Sukut: Iaitu, setelah dia (orang awam) beriman dengan lafad yadd , dan meyakini bukanlah makna dhahir yadd  (tangan) yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t, tetapi ada makna lain, kemudian mengaku kelemahan diri untuk mengetahui makna di balik yadd Allah tersebut, maka hendaklah dia mendiamkan diri tanpa bertanya mengenai makna lain yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. tersebut, krna dia tidak pernah dituntut untuk mengetahui makna tersirat di sebalik perkataan yadd Allah tersebut.  Bahkan, dengan bertanya, orang awam tersebut akan terpeleset kepada bahaya yang lebih besar iaitu, akan bertindak menta'wilkan nas-nas tersebut menurut femahamannya sendiri. Oleh krna itulah, Imam Al-Ghazali r.a. menyarankan agar orang-orang awam tidak perlu bertanya tentang makna nas-nas mutasyabihat tersebut.
Kelima: Al-Imsaak: Iaitu, setelah (orang awam tersebut) beriman dengan lafad yadd  dan meyakini ada makna lain) yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t, , kemudian mengaku kelemahan diri untuk mengetahui makna di balik yadd Allah tersebut, lalu dia mendiamkan diri tanpa bertanya mengenai makna lain yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. tersebut, hendaklah dia juga, setelah itu, tidak menukarkan perkataan mutasyabihat tersebut dengan perkataan lain, seperti menukarkan perkataan yadd dengan perkataan tangan . Ataupun dia tidak mengubah perkataan yadd Allah ke dalam bahasa Melayu dengan menyebut, Allah bertangan dan sebagainya, krna bukanlah makna  lafad dhohir yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dalam nas-nas mutasyabihat,  makna-makna dhahir tersebut tidak selayaknya bagi Allah s.w.t..
Keenam: Al-Kaff: Iaitu, setelah semua itu, seseorang awam juga hendaklah menahan daripada berfikir, merenung dan mendalami makna-makna mutasyabihat tersebut dengan akal pemikirannya yang cetek,  sebab itu membawa kepada salah faham seterusnya membawa kepada kekufuran tanpa mereka sedari. Bahkan, dia juga tidak boleh membayangkan bahwasanya, Allah s.w.t. itu beranggota tangan yang jisim, ketika berinteraksi dengan ayat yadd Allah tersebut, sebab itu bukan yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t..

Ketujuh: At-Taslim li Ahlil Makrifah: Iaitu: setelah seseorang awam meninggalkan berfikir tentang makna-makna mutasyabihat tersebut, hendaklah dia ketahui bahwasanya, walaupun dia tidak mengetahui tentang makna ta'wilan bagi perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut, masih ada golongan yang mengetahuinya seperti Rasulullah s.a.w. sendiri, para nabi a.s., para pembesar sahabat, para arifin, para wali dan para ulama' yang mendalam ilmu , lalu menyerahkan perbahasan mengenainya kepada mereka, tanpa perlu mencampuri perbahasan tersebut. 

Orang awam tidak perlu ikut berbahas dengan para ulama' tentang nas-nas mutasyabihat ini, dan dalam waktu yang sama, ia mengetahui bahwasanya, ta'wilan-ta'wilan tersebut  diketahui oleh sebagian manusia dengan izin Allah s.w.t., iaitu dari kalangan para nabi dan para ulama' yang mendalam ilmu nya. Mereka yg awam harus menyerahkan perbahasan tersebut kepada ahlinya dan berpegang dengan keenam prinsip dan asas dasar sebelumnya, beserta prinsip yang ketujuh ini. Wallahu a'lam. 

Kesimpulan Kedua:

Dalam seluruh risalah Imam Al-Ghazali r.a. ini, di kitabnya iljamul 'awam, 'an ilmi kalam, menunjukkan sikap prihatin beliau terhadap orang-orang awam Islam, dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat, mereka (orang awam tersebut), tidak mampu menguasai ilmu kalam untuk dijadikan pedoman dalam berinteraksi dengan nas-nas tersebut.
Lalu, Imam Al-Ghazali r.a. membentangkan tujuh kaedah asas dasar dalam menjaga aqidah orang-orang awam berkenaan dengan nas-nas mutasyabihat, untuk menjauhkan mereka daripada pengaruh faham sesat seperti tajsim (menjisimkan Allah s.w.t.) dan ta'thil (menafikan seluruh sifat Allah s.w.t..
Dan, beliau juga menutup pintu fitnah orang-orang awam, agar tidak terjerumus dalam perbahasan-perbahasan berkaitan nas-nas mutasyabihat ini, yang berlaku di antara para ilmuan Islam, dengan mencegah orang-orang awam yang tidak mampu untuk mendalami ilmu kalam, agar tidak mendalami ilmu tersebut. 

Namun, Imam Al-Ghazali r.a tidak menolak ilmu kalam secara mutlak, dalam risalah ini, krna beliau sendiri dalam risalah ini menegaskan peranan ilmu kalam, sebagai obat utk mengubati faham bid'ah muktazilah dan sebagainya, namun tdk semua orang mampu mendalami ilmu tersebut. Oleh karena itu, beliau menyarankan agar orang-orang awam yang tidak mempunyai ilmu yang kukuh, serta tidak mempunyai kecerdasan pemikiran, untuk menjauhi perbahasan ilmu kalam ini, khususnya melibatkan nas-nas mutasyabihat ini. Cukuplah utk menjaga aqidah orang-orang awam daripada faham tajsim berkenaan nas-nas mutasyabihat ini, dengan berpegang kepada tujuh asas dasar yang digariskan oleh beliau, tanpa perlu mendalami perbahasan-perbahasan ilmu kalam. 

Sasaran tulisan ini sebenarnya untuk orang-orang awam, dan saran beliau kepada ulama'-ulama' Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang awam. Penulis yang faqir dapati, ketika membaca risalah ini , mendapat kesukaran untuk memahami perbahasan-perbahasan beliau, krna masih mengandungi istilah-istilah ilmu mantiq dan ilmu kalam. Oleh krna itulah, penulis yang faqir ini meringkaskan dengan seringkas-ringkasnya, perbahasan beliau khususnya dalam bab pertama, utk kemudahan orang-orang awam zaman kini, memahaminya.
Adapun saranan Imam Al-Ghazali r.a. kepada para ulama' Islam, khususnya pada zaman beliau, untuk tidak mengetengahkan manhaj ta'wil ke dalam masyarakat, (walaupun beliau sendiri mendukung manhaj ta'wil tersebut), krna mengharapkan agar masyarakat awam bersikap wara' dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat ini. 

Bahkan, beliau juga berkata, bahwasanya, beliau lebih menekankan aspek keimanan terhadap nas-nas mutasyabihat tersebut, di banding aspek ta'wil terhadap nas-nas mutasyabihat tersebut, krna majoriti kesesatan di zaman beliau adalah pada golongan yang menafikan (ta'thil) sifat-sifat Allah s.w.t., sedangkan kesesatan golongan tajsim itu adalah minoriti. (rujuk bab tiga dalam risalah asal iljamul awam). oleh Krna itu, beliau lebih menekankan aspek keimanan kepada nas-nas mutasyabihat, di banding aspek ta'wil.
Namun, zaman ini, golongan yang berfaham tajsim ini lebih mendominasi di banding golongan yang berfaham ta'thil (iaitu muktazilah), bahkan sebagian daripada mereka bertopeng dgn nama salafiyah dalam menyebarkan faham tajsim ini. Maka, aspek ta'wil ini lebih perlu diketengahkan kepada masyarakat agar mereka tidak terpengaruh dengan faham tajsim ini, di samping faktor-faktor yang disebutkan sebelumnya, yang akhirnya menyebabkan, ulama'-ulama' Islam mengetengahkan manhaj ta'wil ini ke dalam masyarakat awam Islam.

Hal ini turut dijelaskan sendiri oleh Dr. Al-Qaradhawi  , Dr. Al-Buti, (guru kami) Dr. Umar Abdullah Kamil dan sebagainya. Fahamlah kita mengapa, pendekatan manhaj ta'wil ini digunakan dalam masyarakat, dalam melawan tiga faktor penting, dalam masyarakat awam Islam zaman ini (iaitu, ancaman serangan Orientalis, ancaman serangan faham tajsim atas nama gerakan salafiyah modern dan kepesatan orang-orang bukan arab memeluk Islam lalu menghadapi kesulitan untuk memahami nas-nas mutasyabihat tersebut). 

Semoga Allah s.w.t. memberi petunjuk kepada seluruh umat Islam dan menyelamatkan umat Islam daripada kesesatan dan faham tajsim. Amin…
Wallahu a'lam…
Al-Faqir ila Rabbihi Al-Jalil
Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin Ar-Razi 
komentar | | Read More...

Dasar Bagi Orang Awam dalam Berinteraksi dengan Nas-nas Mutasyabihat Bag 2

Penulis : Bagus Rangin on 9 Februari 2014 | 00.53.00

9 Februari 2014



Shaykh aljayli




Dasar Ketiga: Al-I'tiroof bi Al-'Ajzi (Mengakui Kelemahan dirinya.)
\
\Imam Al-Ghazali r.a. berkata tentang dasar ketiga ini:


"Kaedah Ketiga:mengakui kelemahan. Iaitu, seseorang mengakui bahwasanya, ilmu untuk mengetahui hakikat dan maksud perkataan (mutasyabihat) tersebut, bukanlah atas kadar kemampuannya, bahkan bukan urusannya untuk mengetahui maksud sebenarnya dari perkataan mutasyabihat tersebut."

Seseorang muslim perlu menyadari hakikat diri bahwasanya, tidak ada seseorang pun yang mampu mengetahui hakikat sifat Allah s.w.t. yang Maha Sempurna. Ini krna, hakikat Allah s.w.t. itu qadim yang tidak ada pendahuluan dan baqi iaitu tidak ada  akhir. Jadi, tidak ada  seorang pun mampu mengenal seluruh sifat-sifat Allah s.w.t. secara menyeluruh.


Bahkan, bagi orang awam, hendaklah dia mengakui kelemahan dirinya dalam mengetahui makna-makna ta'wil dari perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut, dan menyerahkan makna sebenarnya kepada Allah s.w.t..

Bahkan, hakikat Allah s.w.t. itu sendiri tidak diketahui melainkan oleh Allah s.w.t.. krna, tidak ada seorang pun yang ilmunya meliputi ilmu Allah s.w.t..

Imam Al-Ghazali r.a. berkata dalam hal ini:

"Bahkan, orang-orang yang mendalam ilmunya sendiri, seperti para wali, walaupun sudah menjangkau  keilmuanya di atas orang-orang awam dari sudut makrifat, sehingga menyelami samudera makrifat, namun ilmu mereka masih tidak dapat menjangkau hakikat Allah s.w.t…Hal ini  diakui sendiri oleh Penghulu para Nabi s.a.w. ketika Baginda s.a.w. bersabda: "Aku tidak mampu menghitung pujian atasMu. Engkau wahai Allah, sebagaimana pujianMu atas diriMu sendiri"…  oleh sebab itu   bagaimana seseorang tidak mengakui kelemahan dirinya (untuk memahami hakikat sifat-sifat Allah s.w.t.)?"

Bagi orang awam khususnya, hendaklah dia menyadari bahwasanya, ilmu untuk mengenal Allah s.w.t. itu, suatu ilmu yang mendalam. Para ulama' ahlus sunnah wal jamaah menggariskan beberapa pendekatan dalam memahami sifat-sifat Allah s.w.t. secara ringkas, agar seseorang tidak terjerumus dalam kesesatan dan faham-faham yang bid'ah (seperti faham muktazilah dan faham tajsim serta tasybih).

Sejajar dengan perkembangan zaman, di mana jumlah umat Islam semakin bertambah, menjangkau  berbagai benua dan kaum, maka, ulama'-ulama' Islam khususnya dalam bidang aqidah, mencuba menggariskan kaedah-kaedah maupun pendekatan yang mudah dalam masalah aqidah, dengan tujuan untuk memelihara aqidah orang  awam Islam khususnya, dari kesesatan.

di Antara pendekatan dan kaedah serta panduan dalam memahami aqidah Islam yang murni, khususnya berkaitan dengan sifat-sifat ketuhanan, para ulama' ahlus sunnah menggariskan suatu keadah yang berkembang pesat iaitu pendekatan "sifat dua puluh". Ini merupakan manhaj menyusun pemikiran manusia dan menjaga aqidah orang-orang awam khususnya daripada faham -faham  yang sesat. Bahkan, pendekatan ilmu sifat dua puluh juga berperan dalam menolak kesesatan aqidah-aqidah yang sesat seperti aqidah-aqidah agama Kristian dan sebagainya, begitu juga dalam menolak aqidah-aqidah bid'ah seperti faham  muktazilah, jabariyah, mujassimah dan sebagainya.
 Seseorang tidak mampu untuk mengenal Allah s.w.t. dengan akalnya, begitu juga dengan kaedah sifat dua puluh ini, dengan pengenalan yang sempurna. Namun, sekurang-kurangnya, pendekatan sifat dua puluh ini, menjaga manusia daripada salah faham terhadap sifat-sifat Allah s.w.t., krna ilmu ini menggariskan panduan-panduan penting dalam mengenal sifat-sifat yang wajib bagi Allah s.w.t. dan sifat-sifat yang mustahil bagi Allah s.w.t., yang diambil daripada Al-Qur'an dan As-Sunnah itu sendiri.

Oleh karena itu, dengan pendekatan ilmu sifat dua puluh, walaupun ada dalam kalangan umat Islam tidak mampu memahami sifat-sifat Allah s.w.t. melalui 20 sifat tsb, namun, sekurang-kurangnya, dengan ilmu sifat dua puluh tersebut, seseorang tidak akan salah faham dengan sifat-sifat Allah s.w.t., krna sudah mengetahui apa yang wajib bagi Allah s.w.t. dan apa yang mustahil bagi Allah s.w.t., serta apa yang bleh bagi Allah s.w.t..


Golongan hasyawiyah (jumud dalam berinteraksi dengan nas-nas) dan mujassimah yang menolak pendekatan ilmu sifat dua puluh , dan menuduh golongan Al-Asya'irah khususnya, (yang mewakili majoritas umat Islam serta mewakili majoritas ahlus sunnah wal jamaah sepanjang zaman) demgbn sebutan golongan yang berlebihan menggunakan akal, serta menuduh pendekatan ilmu sifat dua puluh sebagai pendekatan yang bid'ah, sebenarnya tuduhan mereka tidak berdasar sama sekali.

Sesungguhnya, ilmu sifat dua puluh mempunyai sandaran yang kukuh dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah,  baik secara ringkas maupun secara terperinci. Namun, golongan hasyawiyah dan mujassimah yang ada pada zaman ini (dengan nama yang lain) menolak pendekatan ilmu sifat dua puluh ini, krna mereka takut, kesesatan faham mereka terbongkar, krna ilmu sifat dua puluh inilah, yang berperan besar dalam membongkar kesesatan faham-faham bid'ah dalam aqidah dari masa dahulu, seperti faham muktazilah, jabariyah, qadariyah, dan mujassimah.
Sesungguhnya, pendekatan ilmu sifat dua puluh merupakan suatu kaedah yang berperan penting dalam menjaga aqidah umat Islam,  baik golongan awam maupun golongan penuntut ilmu, daripada salah faham terhadap sifat-sifat ketuhanan.

Namun, tidak dapat dinafikan bahwasanya, pendekatan ilmu sifat dua puluh bukanlah suatu pendekatan yang dapat difahami dengan mudah oleh setiap lapisan masyarakat, dalam kalangan umat Islam. Hal ini dijelaskan sendiri oleh para ulama' Islam dalam bidang aqidah seperti Imam Al-Ghazali r.a., Imam Ar-Razi r.a., Imam Al-Baijuri r.a., Imam As-Showi r.a. dan sebagainya, lebih-lebih lagi, dalam kalangan orang-orang awam Islam yang bukan berbangsa Arab yang tidak memahami pendekatan bahasa Arab dengan sempurna.

Oleh kerana itulah, Imam Al-Ghazali r.a. mengarang risalah ringkas ini, sebagai panduan orang-orang awam yang tidak mempunyai keahlian dalam mendalami ilmu kalam (atau ilmu sifat dua puluh secara mendalam), dan tidak mampu untuk meneliti masalah-masalah yang diperbincangkan dalam ilmu tersebut, agar aqidah mereka (walaupun tidak mahir dalam ilmu kalam), tetap terpelihara daripada kesesatan faham tajsim dan tasybih dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat ini.
Dalam kaedah ketiga ini, Imam Al-Ghazali r.a. meningkatkan orang awam, bahwasanya,  seseorang itu tidak mampu memahami hakikat sifat-sifat Allah s.w.t., apatah lagi secara penelitian akal, namun di waktu yang sama,beliau  menggariskan panduan, agar seseorang tidak memahami sifat-sifat Allah s.w.t. dengan femahaman yang salah, seperti faham tajsim.

Bahkan, Imam Al-Ghazali r.a. juga mengingatkan orang-orang awam khususnya, untuk tidak berusaha mencari makna-makna ta'wilan bagi nas-nas mutasyabihat ini, dengan  femahaman mereka sendiri, krna mereka tidak wajib untuk mencari makna-makna ta'wil tersebut, berdasarkan kecetekan ilmu mereka, dan menyeru agar mereka mengakui kelemahan diri dalam memahami nas-nas mutasyabihat tersebut, lalu menyerahkan ilmu mengenai makna tersebut kepada Allah s.w.t..

Jika dia berjumpa dengan perkataan: "yadd (tangan) Allah", maka hendaklah dia meyakini bahwasanya, bukanlah makna dhahir yang berunsur kejisiman yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t., tetapi ada suatu makna lain yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dari perkataan tersebut, yang dia sendiri tidak mengetahuinya, tetapi hanya Allah s.w.t.-lah yang mengetahui maknanya (dan orang-orang yang diberi faham oleh Allah s.w.t. akan maknanya).
Sebenarnya, seseorang tidak mengenal Allah s.w.t. melalui akalnya, tetapi sseorang akan mengenal Allah s.w.t., sekedar yang diizinkanNya, melalui hatinya, dengan sinar cahaya keimanan. Akal ini terbatas, sebagaimana pancaindera juga terbatas. Namun, femahaman tentang Allah s.w.t. dan mengenal Allah s.w.t. itu tempatnya di hati, iaitu seseorang menyaksikan Allah s.w.t., dengan mata hatinya. Iaitu, dia sentiasa merasakan kehadiran Allah s.w.t., dan memahami hikmah-hikmah Allah s.w.t. dalam setiap kejadian yang berlaku di sekelilingnya. 

Hanya hati yang bersih, dengan keimanan, yang dapat mengenal Allah s.w.t., dengan pancaran keimanan. Inilah maqam ihsan yang disebut oleh Nabi s.a.w. ketika bersabda: "Ihsan ialah, kamu menyembah Allah s.w.t. seolah-olah kamu melihatNya…" (hadith sahih riwayat Imam Muslim r.a.). Adapun pendekatan akal, dengan landasan ilmu sifat dua puluh dan sebagainya, merupakan hanya suatu pendekatan saja bagi seseorang agar tidak salah faham tentang sifat-sifat Allah s.w.t., atau suatu pendekatan dalam menjaga aqidah murni umat Islam daripada kesesatan, dan bkan satu satuya yang bisa membawa kepada makrifatuLlah . Inilah maksud Imam Al-Ghazali r.a. ketika menjelaskan bahwasanya, akal tidak mampu mengenal hakikat Allah s.w.t..
Dasar Keempat: As-Sukut (berdiam diri)


Imam Al-Ghazali r.a. berkata:

"Asas Keempat ialah berdiam diri, iaitu seseorang itu tidak bertanya tentang makna perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut, tidak mendalami masalah-masalah tersebut, dan mengetahui bahwasanya, bertanya tentang makna perkataan tersebut adalah suatu bid'ah, dan mengetahui juga bahwasanya, dengan bertanya tentang makna-makna perkataan ini, bisa mendatangkan bahaya kepada agamanya. Dia juga mengetahui bahwasnya, mendalami permasalahan itu bisa membawanya kepada kekufuran, yang dia sendiri tidak mengetahuinya". 

Al-Faqir mengulas dengan bantuan Allah s.w.t.:

Ini adalah dasar  yang paling penting setelah seseorang menyucikan Allah s.w.t. daripada sifat-sifat kejisiman, dan setelah seseorang mengakui kelemahan dirinya dalam memahami makna-makna mutasyabihat tersebut, maka handaklah dia berdiam diri daripada bertanya tentang makna-makna perkataan tersebut. 

Imam Al-Ghazali r.a. menjelaskan dasar ini dengan berkata:
"Berdiam diri daripada bertanya (tentang makna perkataan-perkataan mutasyabihat), merupakan suatu kewajipan bagiorang-orang awam, krna dengan bertanya, dia terseret kepada suatu perkara yang tidak mampu dipikulnya, ataupun dia sebenarnya telah melibatkan diri ke dalam suatu medan yang dia tidak layak untuk melibatkan dirinya. Kalaulah dia (orang awam tersebut) bertanya akan makna perkataan tersebut kepada orang yang jahil, maka jawaban yang diterimanya juga adalah jawapan kejahilan yang membawa kepada kekufuran tanpa disadarinya. Jika dia bertanya kepada orang yang arif (yang mengenal Allah s.w.t.) tentang makna perkataan tersebut, bisa jadi orang yang arif itu sukar untuk menerangkan kepadanya akan makna perkataan tersebut, krna dia (orang awam tersebut) bukanlah ahli dalam bidang tersebut…"
Imam Al-Ghazali r.a. berkata lagi:

"Adapun sikap para ulama' terdahulu, apabila melihat orang-orang awam bertanya tentang masalah yang mutasyabihat, maka mereka akan melarang orang-orang awam tersebut daripada bertanya tentangnya apalagi mendalaminya, sehingga Saidina Umar r.a. memukul orang awam yang terlibat bertanya masalah mutasyabihat tersebut. Begitu juga dengan Nabi s.a.w., yang mengingkari suatu kaum yang didapati mendalami masalah qadha' dan qadar…  pada saitu itu, Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya telah musnah kaum sebelum kamu, krna banyak bertanya (tentang perkara-perkara ghaib dan mutasyabihat tersebut)."
"Apabila orang awam bertanya tentang nas-nas mutasyabihat, maka jawablah dengan menyucikan Allah s.w.t., dengan menafikan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), dan menjelaskan bahwasanya Allah s.w.t. Maha Suci daripada sifat-sifat kejisiman…

"Adapun tentang hakikat yang ingin dimaksudkan oleh Alla s.w.t. (daripada perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut), maka kamu (wahai orang awam), bukanlah orang yang layak untuk memperbincangkannya dan bertanya tentangnya. Oleh itu, sibukkanlah dirimu dengan ketaqwaan, dengan melaksanakan apa yang disuruh oleh Allah s.w.t. dan menjauhi laranganNya…"
Imam Al-Ghazali r.a. dalam dasar ke empat ini, menjelaskan prinsipnya, bahwasanya, orang-orang awam tidak perlu untuk bertanya tentang makna perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut, dan hendaklah mereka bersikap wara' dengan tidak bertanya mengenai makna-maknanya. 

Namun, hendaklah diketahui bahwasanya, orang-orang awam di zaman Imam Al-Ghazali r.a. (kebanyakkan mereka) bisa bersifat wara' dalam masalah ini. Namun, dewasa ini, krna orang-orang yang memeluk Islam terlalu banyak, dari belahan dunia timur dan barat, yang mana kebanyakan mereka tidak mahir dalam kaedah bahasa Arab, menyebabkan banyak dari mereka sibuk bertanya tentang perkataan-perkataan mutasyabihat ini.
Oleh kerana itulah, golongan ulama' setelah Imam Al-Ghazali r.a. khususnya, yang dikenal sebagai golongan Al-Asya'irah, menggunakan pendekatan ta'wil dalam masalah nas-nas mutasyabihat ini, supaya orang-orang awam tidak lagi kebingungan dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat, bahkan, supaya orang-orang awam tidak terpengaruh dengan faham tajsim dan tasybih yang dikembangkan kembali oleh sebagian golongan yang mengaku salafi di era moden ini.
Imam Al-Ghazali r.a. sendiri pada hakikatnya, tidak menolak manhaj ta'wil secara mutlak, namun dia mencegah penggunaan manhaj ta'wil ini kepada orang-orang awam, krna ia khuatir, orang-orang awam akan terperosk kepada penggunaan ta'wil ini, lalu dengn sewenang-wenang melakukan ta'wil sendiri.
Namun, Imam Al-Ghazali r.a. sendiri, pada hakikatnya banyak menta'wil nas-nas mutasyabihat, dengan menggunakan kaedah majazi dalam bahasa Arab, seperti menta'wil perkataan fauq dan 'ala jika dinisbahkan kepada Allah s.w.t. dengan maksud, ketinggian maknawi (Maha Tinggi kedudukan Allah s.w.t.), bukan di atas sesuatu tempat  dalam risalah  ini. Namun, beliau tidak membenarkan orang-orang awam di seret dengan ta'wil krna beliau menginginkan agar orang-orang awam bersifat wara' dengan menjauhi pembahasan mengenai nas-nas mutasyabihat tersebut, supaya mereka tidak terfitnah. 

Namun, dewasa ini, hal sebaliknya yang berlaku, di mana kebanyakkan orang-orang awam mulai tertanya-tanya tentang nas-nas mutasyabihat ini, terutamanya apabila aqidah Islam mulai mendapat tempat dalam masyarakat antara bangsa, sehingga menyebabkan golongan musuh-musuh Islam menyerang aqidah orang awam Islam, khususnya dalam masalah nas-nas mutasyabihat ini.
Namun, atas kemaslahatan yang sama, untuk mengelakkan umat Islam awam terfitnah dengan tuduhan-tuduhan musuh-musuh Islam dan faham faham sesat golongan mujassimah, maka, ulama' Islam ahlus sunnah wal jamaah menjelaskan ta'wil ta'wil perkataan-perkataan mutasyabihat .
Kita hendaklah memahami paradigma Imam Al-Ghazali r.a. ketika membentangkan konsep ini, dan faktor-faktor mengapa para ulama' Islam melakukan anjakan paradigma, dengan mengetangahkan manhaj ta'wil kepada awam:
Pertama: Faktor Serangan Musuh-musuh Islam

Pada zaman Imam Al-Ghazali r.a., musuh-musuh Islam khususnya di belahan dunia barat, tidak menyerang ajaran Islam secara meluas krna umat Islam pada saat itu, merupakan umat Islam yang di segani dalam bidang kekuatan tentera mereka. Para musuh Islam pada saaty itu, memfokuskan usaha mereka untuk menyerang umat Islam dari sudut kekuatan ketenteraan semata  bukan dari sudut ilmu pengetahuan, krna mereka (orang-orang kafir Barat) pada saat itu hidup dalam kejahilan dan kemunduran ilmu pengetahuan (dark ages).
Jadi, pada zaman itu, hampir tidak ada golongan-golongan Orientalis Barat yang menyerang insitusi ilmu Islam dan ajaran-ajarannya,  yang memaksa ulama'-ulama' Islam mempertahankan bidang ilmu-ilmu Islam. Bahkan, dari sudut ilmu kebendaan juga, pada waktu itu, orang-orang Barat sendiri berguru pada ulama'-ulama' Islam.

Namun, setelah berlaku kebangkitan dalam dunia Barat (renaisans), para ilmuan Barat mencuba bersaing dengan umat Islam, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Setelah itu, dunia Barat turut melancarkan serangan dalam bentuk pemikiran, di samping beberapa poin serangan ketenteraan atas negara Islam. Di Antara serangan-serangan para orientalis (ilmuan Barat yang mempelajari Islam)  atas umat Islam dalam bidang pemikiran dan ilmu pengetahuan adalah, serangan terhadap aqidah umat Islam, termasuk berkenaan dengan nas-nas mutasyabihat ini.
Para orientalis barat menuduh umat Islam bertuhankan suatu tuhan yang tidak sempurna dan menyerupai makhluk berdasarkan nas-nas mutasyabihat ini. Oleh karena hal itu, fitnah dalam bidang aqidah Islam, khususnya melibatkan nas-nas mutasyabihat ini, diberi perhatian secara serius oleh ulama Islam.
Akhirnya, mereka (para ulama' Islam) menggunakan pendekatan ta'wil kepada masyarakat awam Islam, demi mempertahankan aqidah murni Islam, dari serangan musuh-mush Islam, dan menjaga kesejahteran aqidah umat Islam yang awam, daripada fitnah yang ditimbulkan oleh golongan Orientalis Barat. 

Manhaj ta'wil diketengahkan oleh para ulama' khalaf khususnya, bukanlah tidak ada alasan yang kukuh, tetapi keperluan di zaman mereka, menyebabkan mereka terpaksa mengetangahkan manhaj ta'wil, demi menolak serangan Orientalis Barat atas aqidah orang awam Islam dan menjaga aqidah awam Islam daripada faham yang sesat (seperti tasybih dan tajsim).
Dengan mengetengahkan manhaj ta'wil ini juga, demi mencapai dasar pertama yang digariskan oleh Imam Al-Ghazali r.a. sendiri, iaitu At-Taqdis (menyucikan Allah s.w.t.), daripada sifat-sifat kejisiman, yang mana, hal itu sukar dilaksanakan melainkan dengan pendekatan ta'wil.
Kedua: Berkembangnya kembali Faham Tajsim 

Setelah faham tajsim (menjisimkan Allah) ditolak oleh golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah secara besar-besaran di zaman Imam Al-Asy'ari dan sebagainya, golongan yang mendokong faham ini (hasyawiyah dan mujassimah) bersembunyi di balik pelopor-pelopor mereka yang menamakan diri mereka sebagai golongan ahli hadith dan ikut serta bersama para ahli hadith dari kalangan ahlus sunnah wal jamaah.

Namun, setelah munculnya Sheikh Ibn Taimiyah, yang mengkritik manhaj Al-Asya'irah khususnya (yang merupakan majoritas umat Islam masa itu), dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat, seterusnya ia mempelopori faham isbat makna-makna dhahir bagi perkataan mutasyabihat tersebut, maka, fahama mujassimah kembali berkembang melalui pintu yang dibuka oleh Ibn Taimiyah.
Pada awalnya, faham isbat Ibn Taimiyah ini tidak di endahkan oleh masyarakat Islam, bahkan dikiritk oleh ulama'-ulama' ahlus sunnah wal jamaah, namun, setelah  munculnya Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab, faham tajsim ini mula tersebar luas, bahkan lebih malang lagi, disebarkan atas nama aqidah salaf, padahal para salafus soleh sendiri berlepas tangan daripada aqidah mereka.

Sejak dari munculnya Ibn Taimiyah, sehingga faham beliau dipopularkan kembali oleh sebagian golongan yang mendakwa sebagai salafi, masyarakat awam semakin terseret kepada fitnah yang lebih besar dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat ini, sehingga memaksa ulama' Islam ahlus sunnah wal jamaah mengetengahkan pendekatan ta'wil yang sesuai dengan kaedah bahasa Arab itu sendiri, utk menjaga aqidah umat Islam awam, daripada faham tajsim.

Lalu, mereka mengetengahkan ta'wilan-ta'wilan  nas-nas mutasyabihat tersebut, supaya orang-orang awam tidak menetapkan makna dhahir bagi nas-nas mutasyabihat , yang membawa kepada menjisimkan Allah s.w.t..

Lalu, para ulama Islam mengetengahkan manhaj ta'wil dengan berkata, yadd (tangan) Allah ini suatu kiasan yang  maksudnya, kekuasaan Allah s.w.t., dan sebagainya. Akhirnya, golongan yang menyeru umat Islam menetapkan makna dhahir nas-nas mutasyabihat ini, menuduh golongan Al-Asya'irah menafikan apa yang disifati oleh Allah s.w.t. kepada diriNya, padahal dengan ta'wil, tidak membawa seseorang menafikan sifat-sifat Allah s.w.t. sama sekali.

Fenomena muncul gerakan tasybih dan tajsim atas nama salaf, menyebabkan manhaj ta'wil amat penting untuk diketengahkan ke dalam masyarakat awam dewasa ini, demi memelihara dasar pertama yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali r.a., iaitu, asas At-Taqdis (menyucikan sifat-sifat Allah s.w.t. daripada kejisiman).  

Ketiga: pesatanya Orang-orang A'jam (bukan Arab) Memeluk Islam
Saban waktu dan masa, penduduk dunia di belahan timur dan barat mula memeluk agama Islam. Mereka yang berlatar  bahasa, budaya dan pemikiran yang berbeda, mula bersatu di bawah panji Islam. Aqidah mereka yang dahulunya penuh warna-warni kesesatan, dibersihkan dengan aqidah Islam yang murni.
Namun, disebabkan perbedaan budaya pemikiran, bahasa pertututran dan budaya kehidupan ,  banyak dari kalangan orang-orang bukan arab ini, terperosok kepada kebingungan khususnya dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat ini. Mereka sendiri tidak faham apa yang dimaksudkan dengan tasybih, tajsim, tafwidh, majaz dan sebagainya, lalu kebingungan ketika berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat ini.
Untk mengelakkan kekeliruan dan salah faham, khususnya kepada orang-orang awam yang bukan dari kalangan bangsa arab, yang tidak memahami budaya bahasa Arab yang tidak kosong dari kaedah kiasan (majazi), maka para ulama' mengetengahkan manhaj ta'wil ini dalam masyarakat awam Islam, demi menolak kemudaratan yang lebih besar, iaitu, salah faham tentang sifat-sifat Allah s.w.t. atau terfitnah dengan faham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk).
Ini kembali kepada kaedah, memilih salah satu daripada dua kemudaratan,  dengan mengambil yang lebh sedikit kemudaratannya, untuk mengelak daripada kemudaratan yang lebih besar .

Benar kata Imam Al-Ghazali r.a. dalam dasar yang ini, iaitu, manhaj ta'wil bisa membawa mudarat kepada orang-orang awam, namun di zaman ini, dengan adanya tiga faktor yang disebutkan sebelumnya jika tanpa manhaj ta'wil, itu lebih membawa mudarat bagi orang-orang awam karena aka terseret kepada faham tasybih dan tajsim.
Jadi, manhaj ta'wil merupakan suatu kepentingan di zaman ini, demi menolak kemudaratan umat Islam, iaitu agar tidak terpeleset kepada faham tajsim, dan demi menjaga aqidah murni umat Islam yang awam, daripada serangan orientalisme serta menjelaskan kesamaran orang-orang awam Islam yang bukan bangsa arab.
Sheikh Yusuf Al-Qaradhawi sendiri yang merupakan seorang ulama' yang  sangat teliti dalam masalah ini, mengakui bahwasanya, di zaman ini, memerlukan ta'wilan-ta'wilan untuk orang awam. 
Sheikh Al-Qaradhawi berkata:

diperlukan (dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat) di zaman modern ini, terutama dalam melibatkan penterjemahan-penterjemahan makna-makna Al-Qur'an ke dalam bahasa-bahasa ajnabi (bahasa asing selain daripada bahasa Arab) karena tidak ada dalam (sebagian) bahasa asing yang dapat difahami dengan perkataan kita (dari sudut bahasa Arab) seperti: "jangan mendalami masalah ini", "hendaklah kita tafwidh perkataan ini.." dan sebagainya. Sesungguhnya, mereka (orang-orang bukan Arab yang bertutur dengan bahasa lain), lebih memerlukan  penjelasan (tentang maksud nas-nas mutasyabihat tersebut), bukan sekedar berdiam diri  Sesungguhnya ta'wil yang maqbul ( sesuai dengan kaedah kiasan bahasa Arab) dalam hal ini (berkenaan dengan penterjemahan bahasa Al-Qur'an ke bahasa asing) lebih diperlukan dan lebih praktikal dalam menyebarkan dakwah Islam, dan dalam memberi penjelasan tentang makna-makna Al-Qur'an menurut bahasa kaum masing-masing atau bahasa moden, yang mana dengan ini, dengan menyampaikan makna yang disampaikan oleh Allah s.w.t. kepada kita sesuai dengan penjelasannya yang jelas, yang dapat mendirikan hujah atas mereka (masyarakat awam antar bangsa) dan memutuskan alasan mereka (untuk tidak lagi beriman dengan ajaran Islam." (Fusulun fil Aqidah karangan Dr. Al-Qaradhawi, m/s 127).
Namun, suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan ialah, manhaj tafwidh (menyerahkan makna sebenarnya kepada Allah s.w.t. tanpa perlu mendalami ta'wilan-ta'wilannya) ialah suatu manhaj yang paling selamat, baik untuk orang awam maupun para penuntut ilmu. Penulis yang faqir ini tetap setuju dengan Imam Al-Ghazali r.a, bagi mereka yang ingin selamat dan bersifat wara' dalam agama mereka, hendaklah dia menyerahkan makna-makna tersebut kepada Allah s.w.t., jika dia tidak memererlukan manhaj ta'wil untuk menjaga agamanya.
Namun, tidak dapat dinafikan juga, secara maslahat umum , manhaj ta'wil itu diperlukan pada zaman ini, untuk diketengahkan dalam masyarakat awam Islam, namun secara peribadi, jika seseorang itu mau bersifat wara', maka  sebaiknya dia beramal dengan prinsip yang digariskan oleh Imam Al-Ghazali r.a. ini, dengan menyucikan Allah s.w.t. daripada kejisiman (makna-makna dhahir perkataan mutasyabihat tersebut), dan meyakini ada makna lain di balik perkataan tersebut, bukan maknanya yang dhahir, lalu menyerahkan pengetahuan tentang makna lain tersebut (ta'wilannya) kepada Allah s.w.t.. Hal ini sesuai dengan firmanNya:
padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya (nas-nas mutasyabihat tersebut) melainkan Allah… (Surah Ali Imran: 7)
Namun, para ulama' khalaf dan sebagian daripada salaf memberi ta'wilan kepada nas-nas mutasyabihat tersebut karena tidak memberhentikan bacaan ayat tersebut pada kalimat Allah s.w.t. semata  tetapi menyambungkan/wasal ayat tersebut dengan ayat selanjutnyaL: orang-orang yang berilmu.
Firman Allah s.w.t. menurut bacaan para ulama khalaf:
…Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya… (Surah Ali Imran: 7)

Ulama khalaf menyatakan bahwasanya wawu (dan) dalam ayat tersebut merupakan waw yang menghubungkan dua perkataan subjek yang sama ( dan). Adapun para salaf menyatakan bahwasanya, perkataan waw dalam ayat itu  maksudnya isti'naf ( perkataan tambahan bagi permulaan ayat yang baru). Kedua-dua pendapat dipakai, krna suatu ijtihad tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain.
Kesimpulan daripada dasar ke empat ini ialah, Imam Al-Ghazali r.a. menyarankan agar orang-orang awam tidak bertanya mengenai makna-makna mutasyabihat , namun pada masa sekarang  ini, ta'wilan-ta'wilan terhadap perkataan mutasyabihat  diketengahkan kepada masyarakat awam untuk menjaga aqidah murni mereka daripada ancaman serangan musuh Islam dan serangan kesesatan golongan mujassimah (orang yang menjisimkan Allah s.w.t.). 


Dasar Kelima: Al-Imsaak (menahan diri)

BERSAMBUNG KE POSTINGAN BERIKUTNYA......
komentar | | Read More...

Dasar Bagi Orang Awam dalam Berinteraksi dengan Nas-nas Mutasyabihat Bag 1

Penulis : Bagus Rangin on 2 Februari 2014 | 09.12.00

2 Februari 2014


allama hasab bin saeed yamani



(Uraian Ringkas Bab Pertama DARI kitab Risalah Iljamul' Awam karangan Imam Al-Ghazali r.a..)

Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali r.a. berkata:

"Ketahuilah bahwasanya kebenaran yang jelas itu seperti yang dijelaskan oleh ahlul basa'ir (orang yang tajam mata hatinya) ialah mazhab Salaf, iaitu yang saya maksudkan di sini, ialah, mazhab para sahabat dan tabi'in , dan saya akan menjelaskannya beserta dalil-dalinya.
"Maka saya berkata: Hakikat mazhab salaf, yang merupakan mazhab yang yang benar menurut pandangan kami (ulama' Islam), iaitu, apabila sampai suatu hadith yang mutasyabihat kepada orang awam (kaum muslimin yang awam)  maka wajib bagi mereka (orang awam tersebut) berpegang dengan tujuh perkara iaitu: Taqdis (menyucikan Allah s.w.t.), kemudian Tasdiq (membenarkan apa yang disampaikan oleh Allah s.w.t.), kemudian mengakui kelemahan (dalam memahami nas-nas mutasyabihat tersebut), bersikap berdiam diri (tidak mendalami permasalahan tersebut), tidak berbicara tentang masalah tersebut, kemudian tidak merenungkan dan berfikir tentang makna-makna perkataan tersebut dan seterusnya menyerahkan ilmu mengenainya kepada ahli makrifat. 

Uraiannya:  

Dasar Pertama: At-Taqdis (Menyucikan) 

Imam Al-Ghazali r.a. berkata: 

"Kaedah Pertama: At-Taqdis: Yang saya maksudkan ialah, menyucikan Allah s.w.t. daripada kejisiman dan kelaziman-kelazimannya"
Al-Faqir menguraikan dengan bantuan Allah s.w.t.:
Ini merupakan kaedah dasar bagi orang-orang awam yang tidak mampu untuk mendalami pembahasan-pembahasan ilmu kalam, ketika berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat.
Adapun contoh-contoh nas-nas mutasyabihat adalah: 

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. (26) Dan tetap kekal wajh ( secara bahasa maksudnya wajah) Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (27) (Surah Al-Rahman: 26-27) 
Allah s.w.t. berfirman juga :
Yadd (secara bahasa maksudnya tangan) Allah di atas tangan mereka (Surah Al-Fath: 10) 

Demikianlah di antara contoh-contoh nas mutasyabihat dalam Al-Qur'an. Adapun dalam hadith Nabi s.a.w., di antaranya adalah:
Sabda Nabi s.a.w.: Allah s.w.t. berfirman (hadith qudsi): "…Jika Aku sayang pada seseorang hamba , maka Aku akan jadi penglihatannya yang dia melihat dengannya (penglihatan tersebut)…" (Hadith riwayat Al-Bukhari r.a.)
Jadi, dalam nas-nas berikut, dhahir perkataan yang dinisbahkan kepada Allah s.w.t. itu memberi makna sifat-sifat makhluk seperti yad (tangan) dan wajh (wajah). Ini merupakan suatu perkataan yang mengarah kepada kejisiman, yang merupakan sifat makhluk yang baru, sedangkan Allah s.w.t. tidak sama seperti makhluk.
Lalu, Imam Al-Ghazali r.a. menggariskan beberapa panduan untuk orang-orang awam, dalam berinteraksi dengan nas-nas mutayabihat tersebut, agar tidak terjerumus ke dalam femahaman tasybih dan tajsim.
Dasar pertama menurut Imam Al-Ghazali r.a. ialah, apabila seseorang berhadapan dengan suatu nas yang samar ini, hendaklah dia menyucikan Allah s.w.t. daripada makna-makna dhahir perkataan tersebut yang memiliki makna tajsim, seperti perkataan tangan, wajah dan sebagainya. Dasar ini di sebut sebagai At-Taqdis. 

Iaitu, apabila seseorang berhadapan dengan nas yang mengandungi perkataan-perkataan yang dhahirnya membawa makna kejisiman, yang dinisbahkan kepada Allah s.w.t. seperti yadd (tangan) Allah dan sebagainya, maka hendaklah dia menyucikan Allah s.w.t. terlebih dahulu daripada sifat tangan yang jisim, lalu meyakini bahwasanya, bukanlah makna dhahir yang dimaksudkan dengan perkataan yadd tersebut.  Dalam perkataan yadd tersebut, ada makna lain, selain daripada makna tangan yang merupakan suatu jisim, yang hanya diketahui oleh Allah s.w.t.. Adapun perkataan yadd (tangan) Allah s.w.t. itu  bentuk majazi (kiasan) semata-mata, bukan hakiki.


Inilah suatu konsep asas yang perlu dipegang oleh setiap muslim, agar aqidah mereka tidak tercemar dengan femahaman-femahaman sesat seperti faham tajsim (menjisimkan Allah) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk)

Allah s.w.t. berfirman:
tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya, dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat. (Surah As-Syura: 11)
Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali r.a. ketika mensyarahkan dasar pertama ini, beliau berkata:
"Hendaklah seseorang mengetahui bahwasanya, pada perkataan-perkataan tersebut (tangan, wajah dan sebagainya), memiliki dua makna. Pertama, makna asalnya iaitu suatu anggota yang memiliki rongga, berjuz, yang merupakan anggota khusus, atau jisim khusus, untuk suatu badan tubuh, yang ada ukuran dan bentuk tertentu, maka ini ialah makna kejisiman. Kedua, makna lain selain dari makna kejisiman tsbt iaitu, seperti dikatakan: "seluruh negeri ini ada dalam tangan sang raja", yang mana makna tangan dalam perkataan tersebut bukanlah makna jisim, tetapi maksudnya kekuasaan raja tersebut, yang dapat difahami dengan mudah oleh orang-orang awam juga…" 

Jelaslah menurut Imam Al-Ghazali r.a., bahwasanya, perkataan-perkataan seperti tangan, wajah dan sebagainya,  bisa memiliki dua makna iaitu:
Pertama: Makna Asalnya iaitu satu anggota yang ada ukurannya tertentu, yang terkait dengan jasad atau jisim sesuatu, maka ini makna kejisiman.
Kedua: Makna lain yang tidak mengarah kepada makna kejisiman, iaitu, makna majazi (kiasan) untuk perkataan tersebut, seperti contoh yang telah diberikan oleh Imam Al-Ghazali r.a. sendiri.

Imam Al-Ghazali r.a. berkata dalam rangka menolak femahaman tajsim (menjisimkan Allah s.w.t.:
"Bagi seorang awam maupun orang bukan awam, pasti yakin bahwasanya, apa yang dikhabarkan oleh Nabi s.a.w. berkenaan dengan nas-nas mutasyabihat tersebut, tidaklah memiliki maksud dengan makna kejisiman, krna jisim itu mustahil bagi Allah s.w.t. yang Maha Suci dari segala kekurangan…Setiap yang berjisim itu makhluk…Oleh sebab itu, siapa yang menyembah suatu yang berjisim, maka dia kafir menurut kesepakatan ulama' salaf dan khalaf…" 

maka kita Faham bahwasanya, di balik perkataan-perkataan yang dhahirnya memiliki maksud kejisiman tersebut, ada makna-makna lain yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w., dan bukanlah maknanya yang dhahir (yang bermakna kejisiman) yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dan RasulNya. Ini hanya suatu konsep kiasan.
Imam Al-Ghazali r.a. berkata lagi:

"Seseorang hendaklah beriktiqad bahawasanya, nas-nas mutasyabihat tersebut mengandung makna-makna lain yang sesuai dengan Allah s.w.t., yang bukan makna dengan maksud kejisiman, atau bukan makna suatu anggota bagi jisim. Kalau seseorang tidak mengetahui makna sebenarnya dari perkataan-perkataan tersebut, ataupun tidak memahami hakikatNya, maka dia sebenarnya tidak diwajibkan untuk memahami  maksud sebenarnya dari nas-nas mutasyabihat tersebut, krna tidak menjadi tanggungjawabnya untuk memahami ta'wil (makna lain daripada makna dhahir perkataan tersebut). Dia tidak wajib untuk mengetahui makna perkataan tersebut bahkan wajib  baginya untuk tidak mendalami pembahasan tersebut…"
Jelaslah bagi kita bahwasanya, seseorang awam yang tidak memahami makna lain (ta'wil) atas perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut, maka tidak wajib baginya untuk mengetahui makna-maknanya, bahkan wajib pula baginya untuk tidak mendalami masalah-masalah tersebut untuk mengetahui maknanya. 


Inil adalah suatu konsep tafwidh iaitu, menyerahkan makna sebenarnya perkataan-perkataan tersebut kepada Allah s.w.t. (dan kepada ahli ilmu menurut pendapat sebagian ulama khalaf), dan tidak mendalami pembahasan-pembahasan mengenai maknanya. 

Inil konsep paling inti dalam menolak kesesatan faham tasybih dan tajsim, yang mana, dewasa ini, dipopularkan semula oleh sebagian golongan yang mendakwa diri mereka sebagai salafi. Mereka bersikap jumud dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat, dengan menafikan konsep ta'wil, tafwidh makna, dan juga majazi dalam penggunaan bahasa Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Sheikh Ibn Taimiyah merupakan di antara pelopor yang menyeru untuk menolak penggunaan konsep ta'wil dan tafwidh dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat, yang mana akhirnya membawa kepada faham isbat (menetapkan) makna dhahir yang berunsur kejisiman bagi zat Allah s.w.t..
Alfaqir telah menulis sebagian penolakan terhadap golongan ini, yang didasari oleh femahaman Ibn Taimiyah, dalam pembahasan yang lalu, untuk para penuntut ilmu secara khususnya.  

Dasar Kedua: At-Tasdiq (Membenarkan) 

Imam Al-Ghazali r.a. berkata:

"Kaedah Kedua: At-Tasdiq (membenarkan). Iaitu, beriman dengan setiap yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. (termasuk hadith-hadith yang mengandung lafad mutasyabihat). Iaiitu, kita beriman bahwasanya, seluruh yang disampaikan oleh Baginda s.a.w. itu suatu yang benar, sesuai dengan apa yang Baginda s.a.w. katakan dan maksudkan".
Seseorang muslim mesti beriman dengan seluruh khabar yang disampaikan oleh Allah s.w.t. dalam Al-Qur'an dan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. melalui hadith-hadith Baginda s.a.w., termasuk nas-nas yang berkaitan dengan perkataan mutasyabihat ini.
Orang Islam perlu beriman bahwasanya, setiap yang disampaikan di dalam wahyu itu, suatu yang benar, dan tidak boleh menafikan perkara yang termaktub di dalam nas-nas Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Dasatr ini menjelaskan suatu prinsip yang jelas tentang aqidah muslim, khususnya dalam masalah berhubung nas-nas mutasyabihat ini. Kita hendaklah beriman, bahwasanya, perkataan yadd (tangan) Allah tersebut dan sebagainya, semuanya benar dari Allah s.w.t., pada waktu yang sama, kita mengakui bahwasanya, kita tidak tahu makna sebenarnya perkataan tersebut (nas-nas mutasyabihat tersebut) dan kita juga tidak menetapkan makna dhahir perkataan tersebut yang berunsur kejisiman, kepada Allah s.w.t., krna itu tidak layak bagi Allah s.w.t..

Konsep ini menolak asas golongan muktazilah yang menafikan (ta'thil) sifat-sifat Allah s.w.t. dengan beralasan untuk menyucikan Allah s.w.t.. Faham muktazilah ini tertolak krna mereka menafikan semua sifat-sifat yang dikhabarkan dalam nas-nas Al-Qur'an dan As-Sunnah secara mutlak, sedangkan kita wajib beriman dengan segala yang terkandung dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. 

Dasar kedua ini menujukkan juga bahwasanya, pendirian ahlus sunnah wal jamaah, dalam menafikan kejisiman bagi Allah s.w.t. dalam nas-nas mutasyabihat tersebut, bukanlah bentuk ta'thil (menafikan secara mutlak) terhadap sifat-sifat Allah s.w.t., seperti yang didakwa oleh sebagian golongan pengaku salafi di era modern ini, sewaktu menuduh golongan Ahlus sunnah wal jamaah dalam kalangan Al-Asya'irah dan Al-Maturidiyah sebagai golongan yang menafikan sifat Allah s.w.t.. 

Para ahlus sunnah wal jamaah tidak menetapkan makna dhahir perkataan-perkataan mutasyabihat tersebut, krna makna dhahirnya mengandung makna kejisiman, yang tidak layak bagi Allah s.w.t. yang Maha Sempurna. Namun, mereka tetap beriman dengan lafad tersebut (seperti yadd Allah dan sebagainya), tetapi berkeyakinan bahwasanya, ada makna lain di balik lafaz-lafaz tersebut, yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w, bukan maknanya dari sudut dhahir yang mengandung arti jisim. Bagi mereka, lafaz tersebut hanyalah majazi (suatu kiasan), sesuai dengan kaedah bahasa Arab yang mengandungi kaedah kiasan.

Inilah yang gagal difahami oleh sebagian golongan yang terpengaruh dengan faham tajsim dewasa ini.
Imam Al-Ghazali r.a. berkata ketika menjelaskan dasar kedua ini:
"Dasar Kedua ini ialah, seseorang meyakini lafad lafad  tersebut, yang maknanya lafad lafad tersebut sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. dan RasulNya s.a.w.."


Inilah dasar yang paling penting dalam membedakan antara aqidah ahlus sunnah wal jamaah dengan faham-faham sesat seperti faham tajsim dan muktazilah.
Adapun golongan muktazilah, mereka menafikan secara mutlak perkataan-perkataan tersebut. Ini kesesatan krna menafikan apa yang disebutkan oleh Allah s.w.t. dan RasulNya s.a.w., sedangkan kita wajib beriman dengan apa yang disebutkan oleh Allah s.w.t. dan RasulNya s.a.w..
Dari sudut yang lain , ada dua golongan yang beriman dengan nas-nas mutasyabihat ini, namun keduanya berbeda dari sudut femahamannya.
Pertama: Golongan ahlus sunnah wal jamaah (para salafus soleh, golongan Al-Asya'irah dan golongan Al-Maturidiyah): 

Golongan ini beriman dengan setiap perkataan dan lafaz yang dhahir tersebut, namun menyerahkan makna sebenarnya perkataan-perkataan tersebut kepada Allah s.w.t. dengan menyatakan bahwasanya, makna perkataan tersebut bukanlah makna dhahirnya yang mengandung makna kejisiman. Ada makna lain bagi perkataan-perkataan tersebut. Mereka merujuk kepada konsep majaz (kiasan) dalam bahasa Arab sendiri. Mereka yakin, apa yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dan RasulNya s.a.w. daripada perkataan tersebut, bukanlah makna dari sudut dhahir yang mengandung makna tajsim(menjisimkan Allah), tetapi ada makna lain yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dan RasulNya s.a.w. selain daripada makna dhahir tersebut.

Dalam hal ini, golongan ahlus sunnah wal jamaah mempunyai dua pendekatan dan manhaj yang berbeda:
Pertama: manhaj salaf (bukan manhaj salafi modern): iaitu manhaj tafwidh.
Mereka meyakini bahwasanya, ada makna lain bagi perkataan mutasyabihat tersebut, dan bukan makna dhahirnya yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t., namun menyerahkan makna tersebut kepada Allah s.w.t. semata. 

Manhaj ini dipegang oleh majoritas ulama' salafus soleh dan sebagian ulama' khalaf (yang hidup setelah kurun tiga ratus hijrah).

Kedua: manhaj khalaf iaitu manhaj ta'wil.
Mereka meyakini juga bahwasanya, bukan makna dhahir perkataan tersebut yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t., tetapi ada maksud yang lain, lalu memberi makna lain bagi perkataan mutasyabihat tersebut, sesuai dengan kaedah bahasa Arab, demi kemaslahatan orang-orang awam agar tidak salah faham terhadap nas-nas mutasyabihat tersebut.
Contoh ta'wilan mereka yang menepati kaedah bahasa Arab: "yadd (tangan) Allah bererti kekuasaan Allah". Dalam bahasa Arab, menurut kaedah kiasan, tangan juga bisa memiliki arti kekuasaan. 

Manhaj ini digunakan oleh sebagian ulama' khalaf untuk menjauhkan kesamaran kepada orang-orang awam dan manhaj ini juga turut digunakan oleh sebagian kecil daripada ulama' salaf.
Namun walau ada perbedaan, kedua manhaj sependapat bahwasanya, makna dhahir daripada perkataan mutasyabihat tersebut, bukanlah yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t., krna mengarah kepada makna tajsim dan tasybih, dan di sertai percaya bahwa, ada makna lain yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dalam nas-nas tersebut.
Kedua: Golongan hasyawiyah, mujassimah dan musyabbihah iaitu, golongan yang menyerupakan Allah s.w.t. dengan makhluk.
Mereka meyakini bahwasanya, makna dhahir perkataan mutasyabihat tersebut yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t., walaupun maknanya mengandung maksud tajsim, kerana bagi mereka, tidak mengapa menyifatkan Allah s.w.t. dengan sifat-sifat jisim. Golongan ni juga mengingkari konsep tafwidh dan ta'wil serta konsep kiasan dalam berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat. 

Ibn Taimiyah secara tidak langsung ikut mendokong faham ini dengan menolak konsep tafwidh, ta'wil dan majaz dalam masalah ini, bahkan beliau mengkritik dan mempersoalkan Imam Al-Razi krna menafikan jisim bagi Allah s.w.t., dalam buku beliau, At-Ta'sis fi Radd 'ala Asas At-Taqdis yang menolak buku Asas At-Taqdis karangan Imam Ar-Razi r.a..
Namun, aqidah yang benar dan sejahtera ialah aqidah golongan pertama iaitu, golongan ahlus sunnah wal jamaah, iaitu para salafus soleh, golongan Al-Asya'irah dan golongan Al-Maturidiyah, yang beriman dengan nas-nas mutasyabihat namun tidak menetapkan makna-makna dhahir bagi perkataan mutasyabihat tersebut.

Jadi, Imam Al-Ghazali r.a. menyimpulkan dasar kedua ini dengan berkata: 

"Maka, beriman dengan semua yang disampaikan oleh Allah s.w.t. secara menyeluruh, tanpa menggambarkan makna-maknanya dalam benak fikiran secara terperinci, dan di saat yang sama, menafikan kejisiman bagi Allah s.w.t. yang merupakan sifat mustahil bagiNya, secara terperinci, seperti (menafikan) berjuz , ukuran, dan sifat kejisiman yang lain."

 
Dasar Ketiga: Al-I'tiroof bi Al-'Ajzi (Mengakui Kelemahan dirinya.)...................


BERSAMBUNG KE POSTINGAN BERIKUTNYA......



komentar | | Read More...

Total Tayangan Halaman

Translate

PENGELOLA BLOG:

PENGIKUT:

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger