News Update :
Home » » Di antara klaim Wahabi" Allah di atas langit" dengan ucapan fir'aun

Di antara klaim Wahabi" Allah di atas langit" dengan ucapan fir'aun

Penulis : Qultu Man Ana on 14 March 2012 | 07:04:00




 Syaikh Yusuf al-Dijwi Mesir 
 

Pertanyaan: Wahabi mengklaim bahwa Allah ada di atas langit dengan perkataan fir'aun yang di ceritakan oleh Allah dalam Al quran: Firaun berkata: "Hai Haman! bangunkanlah buatku sebuah menara yang tinggi sehingga aku bisa mencapai jalan,jalan dari langit, dan bisa memandang Tuhan Musa', "(ALMU'MIN, 36-37), Ini membuktikan bahwa Musa AS percaya Allah menempat di langit, Mereka juga membawakan beberapa referensi dari kutipan karya-karya ilmiah dalam mendukung ide tersebut..
Jawabannya:
Pertama: tidak mungkin untuk mendirikan sebuah AQIDAH Islam yang tak terbantahkan berdasarkan apa yang di katakan oleh orang kafir. Argument bahwa firaun percaya tuhan Musa ada di langit ,dengan alasan bahwa Musa AS telah mengatakan hal itu padanya",maka ini tdk ada bukti, karena apapun yang di katakan firaun tentang "Tuhan Musa AS" bisa saja merupakan sesuatu kesalah fahaman firaun atau memang disalahartikan.
Kedua: dengan mengutip ayat dari Al quran tentang hal yang tdk di katakan oleh Nabi SAW, Maka hal itu tidak dapat membuktikan sohehnya keyakinan tsbt. sebuah argument membutuhkan ĥadiitS yang sangat otentik atau pernyataan AL Quran (selain mengutip perkataan kafir,) dan juga perlu di pahami dengan cara yang tidak bertentangan dengan teks-teks atau riwayat lain, atau Tdk ada fakta yang membantah klaim itu.

Ketiga: Langit berada di bawah Arsy dan di dalam lingkup ciptaan. maka dengan percaya bahwa Allah ada di Langit, Itu bertentangan dengan dohir ayat" Allah di atas Arasy" , Jika mereka mengatakan bahwa redaksi "di dalam langit" [fis sama] maksdnya adalah "di atas Langit," maka mereka memiliki Penafsiran yang berbeda dengan dhohir lafad, karena fis sama" dengan huruf fi",itu artinya di dalam langit",dan itu hulul murni [Allah menyatu dengan ciptaan],dan maknanya bukan di atas langit, dan klaim Allah di langit dengan melihat dohir lafadnya,adalah penafsiran yang bertentangan dengan "Dia tidak menyerupai apa-apa," dan juga dengan Sabda Nabi SAW, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda dalam doanya:

اللهم أنت الاول فليس قبلك شئ وأنت الآخر فليس بعدك شئ وأنت الظاهر فليس فوقك شئ وأنت الباطن فليس دونك شئ اقض عنا الدين واغننا من الفقر .

“Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Awal, maka tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkaulah Dzat Yang Maha Akhir , maka tiada sesuatu setelah-Mu. Engkau lah Dzat Yang Maha Dzahir maka tiada sesuatu di atas-Mu dan Engkau lah Dzat yang Maha Bathin maka tiada sesuatu  di bawah-Mu. Ya Allah lunasilah hutangku dan kayakan aku dari kefakiran.” 
(HR Muslim,Shahih Muslim,4/2084) atau (Syarah Muslim,17/36)

Dan yang paling penting, tempat merupakan aspek partikel, Jika Allah berada di tempat Dia Pasti memiliki ukuran, partikel atau tubuh, dan semua partikel dan tubuh memerlukan pencipta, karena perlu spesifikasi. dengan menganggap Allah bertempat, ini bertentangan dengan premis utama Tentang bukti keberadaan Pencipta.


Ke empat: Beberapa salafi berhujjah dengan mengutipkan pnafsiran Imam Al-Tabari (wafat 310 H):


ﻭﻗﻮﻟﻪ: (ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻨﻪ ﻛﺎﺫﺑﺎ) ﻳﻘﻮﻝ: ﻭﺇﻧﻲ ﻷﻇﻦ ﻣﻮﺳﻰ ﻛﺎﺫﺑﺎ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻳﺪﻋﻲ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺭﺑﺎ ﺃﺭﺳﻠﻪ ﺇﻟﻲﻧﺎ


Dan (Firaun) berkata: "Hai Haman! bangunlah menara supaya aku bisa tiba pada jalan jalan di langit, dan aku bisa Melihat pada Ilah (Tuhan) Musa, tetapi sesungguhnya, saya pikir dia pembohong. "(40:37),Imam Al-Tabari berkata, "Fir'aun mengatakan ''Saya Mengira dia pembohong'' yakni : 'bahwa saya Mengira Musa adalah pendusta'' ketika ia [Musa AS] mengatakan bahwa Allah ada di atas langit, yang mengutus dia (Musa) kepada saya "(Tafsir Al-Tabari)

Mereka ( SALAFI ) tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang di maksud oleh imam At Thabari dalam ungkapan ''ALLAHNYA di atas langit''.padahal Imam At thobari mengatakan dalaM Tafsirnya tentang ayat: "Lalu DIA berpaling ke langit (tsumma istawa ILA SAMA'I)" ( QS 2:29): Belaiu berkata: Yang dimaksud dengan istiwa 'dalam ayat ini (AL ULUW DAN IRTIFA) yakni tingi dan selanjutnya Beliau berkata lagi: Dia tinggi di atas langit dengan ketinggian kedaulatan dan kekuasaan, bukan tinggi perpindahan tempat dan gerakan.
Jadi, ketika Imam Thabari mengatakan bahwa Musa AS berkata kepada firaun : "Allah di atas langit",maksud Imam Tabari adalah di atas langit dengan ketinggian kedaulatan & kekuasaan. tetapi salafie Mentafsirkan ayat tsbt secara harfiah dgn makna lokasi dan tempat sama seperti femahaman firaun , dan karena femahaman itu firaun memerintahkan membangun menara untuk memastikan kebenaran klaim Musa alaihi salam. At-Thabraniy mengatakan: Firaun berpikir dengan ketidak tahuannya bahwa dengan menara yang tinggi ia akan mampu mencapai Langit, dan dia berpikir bahwa Allah Muusaa AS adalah JISIM  yang dapat dilihat, persis seperti femahaman anthropomorphist bahwa Allah sangat jelas di atas langit.


TANYA JAWAB


Pertanyaan: Bahwa jika salaf mempraktekkan tafwid al ma'na maka bagaimana mungkin mereka menggunakan ayat istiwa untuk menyanggah pandangan jahmi bahwa Allah ada dimana-mana.bukankah dengan hal itu membuat kaum jahmi mudah menjawab bahwa Anda kan tidak tahu arti dari ayat ini, maka bagaimana Anda bisa menggunakannya untuk membantah kami??
Jawaban: Jahm bin Safwaan berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana berdasarkan firman Allah yang secara harfiah terjemahnya Allah itu ada dimana-mana,yakni ayat: "Dia bersama kalian di manapun kalian berada.", Nah penafsiran semacam itu bertentangan dengan terjemah secara literal dari "istawa", jadi apa yang diklaim oleh mereka[jahmiyah] sebagai bukti adalah bukan bukti. Itulah sebabnya firman Allah:istawa" menyajikan bukti terhadap klaimnya. Selain itu, beberapa salaf memahami "istawa ala-l-Arsh"  bahwa Allah tidak di lokasi, tetapi Allah terpisah dari mahluknya, Dengan kata lain, mereka [salaf] memahami ungkapan "di atas arasy" sebagai penolakan bahwa Allah berada di lokasi itu atau pun yang di bawahnya, dan juga bukan di lokasi di atas arasy, tidak seperti klaim Wahabi yang memahami ungkapan terpisah sari ciptaan "bahwa Allah ada di luar alam". Ini sama seperti ketika kita mengatakan "sebelum waktu," maksudnya adalah penolakan dari waktu [tdk tercakup waktu], bukan berarti penegasan pada waktu sebelum waktu, Ekspresi perkataan tersebut terjadi karena keterbatasan bahasa, dan tujuan utama dari bahasa adalah untuk berbicara tentang urusan/hal yang tejadi sehari-hari, bukan hal metafisika. Ungkapan  semisal ini "terpisah dari ciptaan," yang artinya "tidak dicampur dengan atau kontak dengan," dan bukan berarti terpisah secara ruang atau tempat, tidak seperti apa yang di fahami Wahabi, oleh karena di mungkinkan terjadi salah faham, maka banyak dari ulama salaf, seperti juga Imam At-Ţabariyy, menjelaskan  "istawa alaa"  dengan: "di atas secara kepemilikan dan kekuasaan,"bukan secara lokasi." Kemudian banyak juga dari ulama salaf hanya berkata, "di atas" tanpa penjelasan lebih lanjut, dengan ungkapan simpel BILA KAIF: tanpa bagaiman "atau tanpa modalitas, sehingga bukan dalam arti lokasi.

DiNuqilkan Oleh : Qultu Man Ana ~ Kertajati-Majalengka

pucukpucuk agan sedang membaca artikel tentang: Di antara klaim Wahabi" Allah di atas langit" dengan ucapan fir'aun. Silakan agan copy dan paste atau sebarluaskan artikel ini jika dinilai bermanfaat,Ane juga menyediakan FD / DVD 100 lebih kitab2 membantah wahabi,dengan membelinya itu plus infaq untuk lancarnya aktivitas dakwah keislaman atas perhatian sahabat semua,jazakumuLlah ahsanal jaza :

*** Dapatkan dvd/fd di sini ***

Share this article :

+ komentar + 2 komentar

Anonymous
20 April 2012 at 10:43

artikel risalah bid'ah ada bang??

20 April 2012 at 11:03

ADA LIHAT Z DI KATEGORI "Masalah khilafiyah"

Post a Comment

Jangan lupa Tulis Saran atau Komentar Anda

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger