News Update :
Home » » Apakah Allah mempunyai sifat marah dan senang??

Apakah Allah mempunyai sifat marah dan senang??

Penulis : Bagus Rangin on 20 Februari 2012 | 13.00.00




 sayyid al-Abdallah Fadaag dengan al-Sayyid Ahmad Muhammad al-Maliki 


Wahabi mengatakan: kami tahu dari Sunnah bahwa Allah akan menjadi begitu marah pada Hari Pengadilan [akhirat], dengan cara marah yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan tidak akan pernah marah seperti ini lagi di masa yang akan datang? Apa makna semua itu jika tidak 'berubah'?

Komentar: Allah tidak berubah. Untuk memahami kitab suci dengan cara wahabi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah dipengaruhi oleh ciptaan,dan ciptaan yang menyebabkan peristiwa kemarahanNya, dll. Allah tidak terpengaruh oleh apa yang kita lakukan, atau oleh apa pun dalam  ciptaanNya. Ini benar, karena Dia tidak membutuhkan ciptaan dengan cara atau bentuk apapun. 
 Allah itu sempurna sebelum semesta ada dan tidak mendapatkan kesempurnaan dgn keberadaannya menjadi lebih sempurna atau kehilangan kesempurnaan. karena itu Allah berfirman: 

فإن ٱلله غني عن ٱلعلمين 
Artinya: Sesungguhnya Allah maha cukup [tidak perlu] terhadap seluruh semesta alam. (Aal Imran, 97)

Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan:

والله تعالى لم يلحقه تغير ولا تبدل ولا يلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش

"Allah taaalaa tidak berubah atau mengalami substitusi (dalam sifat-Nya), dan tdk dikaitkan padaNya batas, sebelum mencipta arsy dan tidak setelah menciptanya (Itiqaad Al-Imam Al-Mubajjal Ibn Hanbal,  hal 297)." Dengan kata lain, Allah tidak berobah dan tdk menempat di atas arsy.


 Maksud  "kemarahan" atau "murka" ketika di nisbatkan pada Allah

Dalam kamus Mufradaat fi gorib Al-Qur'an karya Ar-Raagħib Al-'Aşfahaaniyy dikatakan: għađab (murka / marah) adalah: " mendidihnya darah dalam hati karena ingin menyiksa/membalas," Lalu ia berkata, "Jika  di nisbatkan pada Allah, maka artinya adalah kehendak menyiksa bukan yamg lainnya (1/ 361) 

Dalam  kamus Lisaanu-l-Arab [1/648] Ibnu  Manţħuur meriwayatkan dari ahli bahasa Ibnu Arafah: "għađab (murka) bagi ciptaan adalah sesuatu yang masuk ke hati mereka, sebagian baik  dan sebagian buruk. Jenis yang buruk adalah membalas tanpa hak, dan jenis yang baik adalah  dgn tujuan agama dan dengan hak. Adapun għađab Allah adalah ingkarNya terhadap  orang yang tidak taat kepada-Nya sehingga Dia menyiksanya.  "

Ibnu Al-Jawziyy Menjelaskan QS TOHA;81 {فيحل عليكم غضبي ] lafad  "għađabii",arti harfiah adalah "amarah-Ku", maknanya adalah: "azab-Ku."[zaadul maesir 361]

Bahkan dalam qamus Inggris kata murka tedak selalu berarti perubahan emosi, Dalam kamus online Merriam-Webster, salah satu definisi murka adalah: "hukuman yg di timpakan  untuk suatu pelanggaran atau kejahatan [Hukuman ilahi] "

Adapun ĥadiitħ ini:

"إن ربي قد غضب اليوم غضبا لم يغضب قبله مثله ولن يغضب بعده مثله"

{ terjemahkan harfiah : "Sesungguhnya Robbku murka pada hari itu dgn kemarahan yang tdk pernah ada sebelumnya, dan ia tidak akan murka seperti itu lagi."}

An-Nawawiyy mengatakan dalam penjelasannya atas hadis tsbt dalam syarh Saĥiiĥ Muslim 3/68: 


المراد بغضب الله تعالى ما يظهر من انتقامه ممن عصاه وما يرونه من أليم عذابه, وما يشاهده أهل المجمع من الأهوال التي لم تكن ولا يكون مثلها, ولا شك في أن هذا كله لم يتقدم قبل ذلك اليوم مثله ولا يكون بعده مثله, فهذا معنى غضب الله تعالى كما أن رضاه ظهور رحمته ولطفه بمن أراد به الخير والكرامة; لأن الله تعالى يستحيل في حقه التغير في الغضب والرضاء. والله أعلم.

Yang dimaksud dengan marah Allah adalah sesuatu yang muncul dari hukumannya terhadap  orang2 yang tidak taat kepadanya, dan apa yang yang di lihat oleh (orang-orang] di hari kiamat dari penyiksaan yang menyakitkan, dan apa yang di saksikan oleh orang-orang di  hari berkumpul (mahsar) atas kengerian yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi lagi semisal itu. Tidak ada keraguan bahwa semua ini tidak terjadi sebelum hari itu, dan tidak akan  pernah terulang kembali. Inilah makna "marah Allah," sebagaimana makna riđha  ( harfiah:senang") Nya adalah  mnampaknya rahmat dan kelembutan terhadap orang2 yang Di kehendaki baik dan mulia. Hal ini karena tidak mungkin Allah berubah dalam diriNya dgn menjadi marah atau senang. (3/68 )

FakħrudDiin Ar-Raaziyy menyatakan dalam kitab tafsirnya:

الفائدة الرابعة: الغضب: تغير يحصل عند غليان دم القلب 
لشهوة الانتقام, واعلم أن هذا على الله تعالى محال, لكن ههنا قاعدة كلية, 
وهي أن جميع الأعراض النفسانية أعني الرحمة, والفرح, والسرور, والغضب, 
والحياء, والغيرة, والمكر والخداع, والتكبر, والاستهزاء لها أوائل, ولها 
غايات, ومثاله الغضب فإن أوله غليان دم القلب, وغايته إرادة إيصال الضرر 
إلى المغضوب عليه, فلفظ الغضب في حق الله تعالى لا يحمل على أوله الذي هو 
غليان دم القلب, بل على غايته الذي هو إرادة الأضرار, وأيضا, الحياء له 
أول وهو انكسار يحصل في النفس, وله غرض وهو ترك الفعل, فلفظ الحياء في حق 
الله يحمل على ترك الفعل لا على انكسار النفس, وهذه قاعدة شريفة في هذا 
الباب 


: faidah ke empat: bahwa al-għađab (marah) adalah perubahan yang terjadi ketika darah  mendidih dalam hati karena keinginan untuk menyiksa. Dan ketahuilan bahwa ini mestahil bagi Allah. dan dalam hal ini Ada sebuah kaidah/prinsip umum, adalah bahwa semua sifat/motif emosi diri seperti sayang,  bahagia , marah , malu, cemburu, angkuh,mengolok2,itu semua memiliki awal dan ujung. Ambil contoh lafad għađab/marah; tahap awalnya adalah aliran darah yang mendidih di jantung, dan ujungnya adalah kehendak untuk berbuat hal yang menyakitkan terhadap yang di bencinya. maka kalimat marah ketika di sandarkan pada Allah tdk memiliki makna yang awal yakni aliran darah yang mendidih di jantung, Sebaliknya kalimat itu di maknai dgn makna goyah [ujung] nya, yakni kehendak untuk menghukum.contoh lain, seperti rasa malu itu memiliki tahap awal yakni rasa hancur  di dalam diri sendiri, dan juga memiliki [goyah] ujungnya yakni meninggalkan melakukan sesuatu, Jadi kata ĥayaa '( harfiah: malu) bila digunakan untuk Allah itu memiliki arti tidak melakukan sesuatu,dan bukan bermakna rasa hancur di dalam diri sendiri . ini kaidah penting dalam bab ini.


Al khozin dalam tafsir lubab at takwil fi maanit tanzil berkata:


{إن الله لا يستحي} الحياء تغير وانكسار يعتري الإنسان 
من خوف ما يعاب به ويذم عليه. وقيل هو انقباض النفس عن القبائح هذا أصله 
في وصف الإنسان, والله تعالى منزه عن ذلك كله فإذا وصف الله تعالى به يكون 
معناه الترك, وذلك لأن لكل فعل بداية ونهاية, فبداية الحياء هو التغير 
الذي يلحق الإنسان من خوف أن ينسب إليه ذلك الفعل القبيح, ونهايته ترك ذلك 
الفعل القبيح, فإذا ورد وصف الحياء في حق الله تعالى فليس المراد منه 
بدايته وهو التغير والخوف, بل المراد منه ترك الفعل الذي هو نهاية الحياء 
وغايته فيكون معنى أن الله لا يستحي أن يضرب مثلا أي لا يترك المثل لقول 
الكفار واليهود

: ayat: Allah tidak malu],Malu adalah berubah dan rasa hancur yang menimpa seseorang karena takut terhada suatu aeb atau hal yang tercela,dan juga di maknai dgn mengernyitnya hati seseorang dari hal-hal yang jelek,ini adalah makna bagi manusia,Dan Allah di sucikan dari semua itu,dan ketika Allah di sifati dgn Al haya [harfiah malu],maka maknanya adalah meninggalkan berbuat sesuatu,hal itu karena setiap perbuatan ada permulaan dan ujung,maka permulaan al haya adalah  perubahan yang menimpa seseorang karena takut dinisbatkan padanya sesuatu yang buruk,dan ujungnya adalah meninggalkan sesuatu perbuatan yang jelek itu,maka ketika datang sifat al haya pada Allah, maka maksudnya bukan makna awalnya yakni perubahan dah ketakutan,tetapi maksudnya adalah meninggalkan sesuatu,yang mana ini adalah ujung dari sifat al haya.maka makna bahwa Allah tdk akan malu utk membuat mitsal utk yahudi nasrani,yakni tdk akan meninggalkan mitsal terhadap ucapan orang2 kafir dan yahudi.

Wallohu A'lam......

DiNuqilkan Oleh : Bagus Rangin ~ Kertajati-Majalengka

pucukpucuk Agan sedang membaca artikel tentang: Apakah Allah mempunyai sifat marah dan senang??. Silakan agan copy dan paste atau sebarluaskan artikel ini jika dinilai bermanfaat,Ane juga menyediakan buku terjemahan kitab yang membantah wahabi: 1. buku "bid'ah mahmudah dan bid'ah idhafiyah antara pendapat yang membolehkan dan yang melarang" terjemah dari kitab: albid'atul mahmudah wal bid'atul idhafiyah bainal mujiziina wal maniin" karya Syaikh abdul fattah Qudais Al Yafi"i, 2.Terjemah kitab ‘At Tabaruk Bi As Sholihin Baina Al Muzijiin wa Al Maani’in: Mencari Keberkahan Kaum Sholihin Antara Pendapat yang Membolehkan dan yang Melarang, hub admin: hp/WA 0857-5966-1085.syukron :

*** Dapatkan buku terjemah disini ***

Share this article :

+ komentar + 2 komentar

Anonim
9 Maret 2012 pukul 21.49

ilmu kalam adalah hasil infiltrasi filsafat yunani-romawi ke dunia islam. maka timbullah hal-hal aneh yang para sahabat Nabi SAW pun tidak pernah mempermasalahkannya/menanyakannya. Sebuah buku lama yang kalo tidak salah judulnya "mundurnya ummat islam" menyebutkan tercatat dalam sejarah, setelah meninggalnya Nabi SAW, dan setelah 2 masa keemasan islam berikutnya (tabiin dan tabiut tabiin), dunia islam menjadi mundur (tertunda kemajuannya akibat banyak ummat yang berkutat dalam ilmu kalam (sebuah ilmu yang tidak pernah (tidak perlu) dipelajari para sahabat nabi dalam mendalami islam. Tetapi ummat islam setelah 3 zaman keemasan silau dengan filsafat dan mulai menggunakan akal dan meninggalkan/menafsirkan dalil dengan akal. Jika para sahabat nabi bertanya di mana Alloh? dan berhenti pada pertanyaan tersebut karena sudah terjawab dalam quran dan hadits, tetapi para pecinta ilmu kalam melanjutkan pertanyaan tersebut dengan " bagaimana tehnis Alloh bersemanyam di arasy, bagaimana cara Alloh turun ke bumi pada 1/3 malam? yang jawabannya tidak tersedia di quran dan al-hadtis. lalu mulailah akal yang dipakai untuk menjawab pertanyaan yang bersifat "gaib" - diluar akal manusia. Padahal menurut prinsip, hal "ghaib" semisal neraka, surga, tempat Alloh swt bersemayam, hanya bisa diketahui dari Al-Quran dan Al-Hadits saja...

28 Maret 2012 pukul 00.01

makna lafad yad dan istiwa memang sebagaimana yang anda katakan,tp bagaimana ktka lafad rsbt di sandarkan pada allah??? yad kita tau makna utk mahluk adalah organ dan alat...apakah makna itu jg utk allah??? kalian bilang memakai makna dohir tapi menafikan makna dohir dgn menafikan bgmnanya.mslh ilmu kalam,baca saja dalam postingan tentang ilmu kalam dan bantahannya

Posting Komentar

Jangan lupa Tulis Saran atau Komentar Anda

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger